Bab 1593
화산귀환
Penerjemah: Chen
Bahkan Buddha pun telah meninggalkan kalian. (3)
Ini adalah pemandangan yang mungkin seharusnya disaksikan seseorang dan diukir dalam ingatan mereka.
Namun para biksu Shaolin tidak melihat sosok megah Beop Gye.
Nama Buddha bergema seperti raungan singa, dan para biksu Shaolin melepaskan tinju-tinju mereka secara berturut-turut.
Boom! Boom! Boom!
Mereka telah berlatih dengan konsisten untuk menjalankan kehendak Buddha dan menyelamatkan mereka yang menderita. Usaha mereka sepenuhnya memblokir orang-orang yang mencoba meraih Beop Jong dan Beop Gye.
Boom!
“Kalian tidak boleh lewat!”
Suara yang tadinya rendah dan dalam sudah hilang. Kini, itu adalah teriakan yang membuat darah membeku, penuh dengan keputusasaan dan kerinduan.
“Menyingkir, kalian biksu pengganggu!”
Pedang-pedang terus berterbangan dari segala arah.
Sret! Sret! Sret!
Tidak peduli seberapa giat mereka berlatih, mereka tidak bisa memblokir setiap pedang yang terbang ke arah mereka dari segala penjuru dalam kekacauan ini.
Tubuh biksu Shaolin dipotong tanpa ampun, berubah menjadi merah darah dalam sekejap.
“Sudah kukatakan, kalian tidak boleh lewat!”
Boom!
Bahkan saat darah mengalir dari seluruh tubuh mereka, para biksu Shaolin tetap berpegangan pada musuh mereka, menahan mereka.
Jeok Ho, yang tiba terlambat, meringis.
Para biksu Shaolin, yang sengit berpautan dengan musuh mereka, menahan orang-orang yang mengejar Beop Jong. Bahkan saat pedang menusuk punggung mereka, mereka meraih pergelangan kaki orang di depan dan menolak melepaskan pegangan.
“Amitabha!”
Siapa pun yang telah berlindung dalam agama Buddha akan mengucapkannya, tetapi gaung dari mereka yang mempertaruhkan nyawa untuk hal itu sangatlah berbeda.
Kematian memang menakutkan bagi siapa pun.
Namun orang-orang ini justru merangkul kematian tersebut. Jika kematian itu tak bisa dihindari, mereka rela menerimanya demi melindungi sesuatu, apa pun itu.
Bukankah karena itulah bunga teratai yang mekar di lumpur menjadi simbol dalam agama Buddha?
“Aku… aku tidak bisa membiarkanmu pergi sebelum aku mati.”
Sambil mengeluarkan gumpalan darah dari mulutnya, biksu Shaolin itu masih berpegangan pada musuh yang terus maju. Keteguhannya memang mirip dengan Maninbang, tapi sangat berbeda dari kegilaan yang ditunjukkan oleh Sekte-sekte Jahat.
“…Kau bermain trik licik.”
Jeok Ho mengertakkan giginya.
Dia bisa melihat dengan jelas Beop Gye yang tersandung menjauh di kejauhan, sambil membawa Beop Jong di punggungnya.
Dia tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja. Kemenangan sudah hampir pasti. Kepala Beop Jong akan membuat kemenangan ini semakin tak terbantahkan. Itu akan menjadi simbol yang mengangkat nama Sapaeryeon, Maninbang, dan Paegun ke posisi paling terhormat di dunia persilatan.
“Aku tidak akan membiarkan kalian kabur!”
Duuung!
Jeok Ho melompat dari tanah, berniat melompati kerumunan yang saling bertarung. Bukan, dia ingin benar-benar melompati mereka.
Tapi saat itu, puluhan sinar cahaya yang dipenuhi aura cahaya Buddha tiba-tiba menyambar ke arahnya. Semua meledak bersamaan, seolah-olah sudah direncanakan, membuat Jeok Ho terpaksa ragu dan mengayunkan pedangnya.
Sreet!
Serangan yang datang berhasil ditebas oleh pedang tajamnya. Meski hanya itu saja, dampaknya cukup untuk menghentikan langkah Jeok Ho. Menahan geraknya, meski hanya sejenak.
Mengertakkan gigi, Jeok Ho menggigit bibirnya.
Mereka berada dalam situasi yang harus bertahan dari serangan yang datang dari segala arah. Untuk menyerang Jeok Ho, mereka harus mengabaikan pedang-pedang yang menusuk tubuh mereka sendiri.
Namun, lebih dari sepuluh serangan telah mengarah kepadanya secara bersamaan.
Tidak ada satu pun biksu Shaolin itu yang mempedulikan nyawa mereka sendiri.
Bahkan saat amarahnya meningkat, Jeok Ho merasakan hawa dingin merambat di punggungnya.
“Ini…”
Tapi tidak ada waktu untuk disia-siakan di sini. Dia harus mengejar dua orang itu sekarang. Jika dia membiarkan mereka lolos, semua ini akan menjadi kesalahannya.
Saat Jeok Ho hendak mendorong tanah lagi, salah satu biksu Shaolin, yang telah melepaskan diri dari anggota Sapaeryeon yang menempel padanya, menyerbu ke arahnya dengan tekad yang tak kenal lelah.
“Aaaah!”
Dari tangannya yang terulur, sebuah serangan telapak tangan yang dipenuhi cahaya keemasan Buddha meledak keluar. Jeok Ho, yang mengamati dengan mata dingin, menebas pedangnya secara horizontal dalam satu gerakan cepat.
Shwaaah!
Serangan telapak tangan besar itu terbelah oleh pedang merah darah, mengukir garis panjang di tubuh biksu tersebut.
“A…mi…”
Kekuatan mengalir keluar dari tubuh biksu itu. Namun dia tidak berhenti. Tersendat-sendat seolah-olah dia akan roboh kapan saja, dia keras kepala melangkah selangkah demi selangkah menuju Jeok Ho.
Dug.
Gerakan lemah, lebih lemah dari tinju anak kecil, menyentuh dada Jeok Ho.
Apakah Beop Jong benar-benar seberharga itu? Hanya karena dia adalah Kepala Biara?
“Apakah Kepala Biara benar-benar begitu berharga bagi kalian?”
Dia bertanya, tanpa mengharapkan jawaban.
Tapi ada jawaban yang tak terduga keluar dari bibir biksu yang terhuyung-huyung itu.
“Itu… tidak penting…”
“Apa?”
Aura tenang menyelimuti wajah yang penuh penderitaan itu.
“Entah itu Kepala Biara atau siapa pun… nyawa siapa saja… layak ditukar dengan nyawaku…”
Wajah Jeok Ho berubah muram.
Swish!
Pedangnya memenggal leher biksu itu dalam sekejap.
Tubuh tanpa kepala itu roboh ke tanah.
Ini bukan karena kebencian, tapi mungkin tindakan belas kasihan sesaat. Jeok Ho dengan dingin menatap tubuh yang kini tak bernyawa, lalu mengangkat kepala dan menatap tajam para biksu Shaolin.
“Siapa saja… katamu.”
Mata mereka berbeda. Mereka dipenuhi sesuatu yang bahkan Jeok Ho, yang telah menyaksikan tak hitungnya kematian dan menghadapi jurang antara hidup dan mati, tidak bisa pahami.
“Bahkan kalau pemimpinnya bodoh, bukankah pengikutnya tidak semuanya busuk hati?”
Tentu saja, Jeok Ho tidak bisa merasakan empati.
Tapi meski tidak bisa merasakan empati, dia bisa menghormati mereka.
Para biksu ini tak akan pernah membuka jalan bagi Jeok Ho selama mereka masih hidup. Mungkin, bahkan setelah nyawa mereka berakhir.
“Kalau itu yang kalian inginkan…”
Jeok Ho menggenggam erat pedangnya.
“Aku akan mengabulkan permintaan kalian.”
❀ ❀ ❀
Clang!
Pedang dan tangan benturan.
Teknik Pedang Penakluk Iblis [복마검법(伏魔劍法)] Jongli Hyeong benar-benar pantas mendapat reputasinya. Cepat, lincah, dan tepat sasaran.
Dalam situasi seperti ini, teknik pedangnya lebih lancar dari biasanya. Serangan ganasnya terus mencari celah, menerjang ke arah lawan.
Tapi… sebenarnya, saat itu Jongli Hyeong sedang putus asa. Rasanya sama sia-sianya seperti mengayunkan pedang ke lautan yang luas.
‘Ini, ini adalah..’
Puluhan, tidak, mungkin ratusan tangan.
Ratusan tangan dengan bentuk berbeda-beda melingkupinya. Seolah-olah ada ratusan orang yang secara bersamaan meraihnya.
‘Tangan Seribu Wajah [천면수(千面手)]!’
Ini adalah teknik rahasia dari Cheon Myeon Susa [Master Seribu Wajah – [천면수사(千面秀士)] Dam Yeohae. Teknik Tangan Seribu Wajah yang membuat Dam Yeohae mendapat gelar tangan terhebat di antara Sekte-sekte Jahat membawa keputusasaan tanpa akhir bagi Jongli Hyeong.
Tentu saja, dia masih bisa menang.
Meskipun lawannya adalah pemimpin Haomun dan tangan terhebat di Sekte-sekte Jahat, Jongli Hyeong juga merupakan Pemimpin Sekte dari Sekte Kongtong. Ilmu Pedang Penakluk Iblis miliknya, yang dipenuhi esensi Kongtong, tidak kalah dibandingkan teknik Dam Yeohae.
Ya, dia mungkin bisa menang.
Kalau saja dia punya waktu untuk secara sistematis membongkar teknik-teknik tangan yang mempesona itu, satu per satu.
Tapi apa yang kurang dimiliki Jongli Hyeong saat ini justru itu: waktu. Dengan musuh-musuh yang semakin mendekat dari segala arah dan situasi yang semakin memburuk dengan cepat, tidak ada waktu untuk tenang membongkar seni bela diri lawannya.
“Haaaap!”
Jongli Hyeong mengayunkan pedangnya dengan putus asa.
Itu adalah serangan kuat yang akan lebih dari cukup untuk mendorong lawan mundur. Namun, tangan lawan tidak pernah menghadapi energi pedangnya secara langsung.
Melihat bayangan-bayangan tangan yang dengan santai menghalau energi pedangnya, keputusasaan dalam mata Jongli Hyeong semakin mendalam tanpa batas.
“Menyingkirlah dari jalanku!”
Clang!
Sekali lagi, dia berteriak sambil menusukkan pedangnya ke arah bayangan-bayangan yang melilit. Setiap bayangan berbentuk tangan yang berbeda-beda, melingkar erat mengelilingi mata pisaunya seolah-olah itu adalah tangan manusia sungguhan.
“Kau tampak terburu-buru sekali.”
“Cheon Myeon…”
“Tapi aku tidak tergesa-gesa sedikit pun.”
Dengan wajah pemuda, Cheon Myeon Susa menyeringai sinis. Suara tua yang keluar dari bibirnya bertolak belakang dengan wajah muda tanpa kerutan, menciptakan perbedaan yang sangat mengganggu. Jongli Hyeong merinding ketakutan.
“Mengapa kau sebagai kepala sekte tidak bersantai dan menikmati ini semua?”
“Aaaaah!”
Sebelum kalimat Cheon Myeon Susa selesai, jeritan menyayat orang lain memecah keheningan dan menusuk telinga Jongli Hyeong.
“Aaaaah!”
Dengan teriakan serupa, Jongli Hyeong mengayunkan pedangnya dengan ganas.
“Hahahah!”
Tawa keras Cheon Myeon Susa bergema bersamaan dengan jeritan itu. Kemarahan membara di mata Jongli Hyeong hingga memerah.
‘Kenapa?!’
Bagaimana bisa sampai pada titik ini? Dia tidak pernah melakukan kesalahan apa pun! Meski ada sedikit kesalahan, apakah pantas mendapat nasib tragis seperti ini? Tidak adil! Hatinya dipenuhi rasa sakit dan malu karena perlakuan sewenang-wenang ini.
“Menyingkir! Sudah kubilang, minggir!”
“Ck ck. Memalukan sekali. Seorang kepala sekte bahkan sudah kehilangan harga diri sedikitpun.”
Cemoohan pedas menghujaninya tanpa ampun.
Kepahitan dan rasa malu, bersama dengan emosi tak terlukiskan lainnya, menyapu Jongli Hyeong.
Pandangannya sesaat, tanpa sadar, bergeser ke samping. Dia ingin melihat, dengan matanya sendiri, sumber dari pemandangan neraka ini.
Dan mata Jongli Hyeong membelalak kaget.
“Di sana…”
Meskipun sedang berada di tengah pertempuran sengit dan mengetahui bahwa gangguan sekejap bisa merenggut nyawanya, dia menjadi linglung sesaat.
Dia tidak bisa menahannya.
Beop Jong sedang melarikan diri. Dia dibawa di punggung Beop Gye.
‘Terkalahkan…?’
Beop Jong yang itu?
Tidak, tidak. Itu bukan bagian yang penting.
Yang penting sekarang bukan bahwa Beop Jong telah dikalahkan oleh Jang Ilso, tetapi bahwa dia sedang melarikan diri, meninggalkan semua orang lainnya.
Setelah mendorong begitu banyak orang menuju kematian, meninggalkan sekte Kongtong dan keluarga Paeng, bahkan Shaolin pun kesulitan di jurang neraka.
‘Sendirian? Meninggalkan kami dan melarikan diri sendirian? Setelah melakukan semua ini?’
Saat dia memahami situasinya, darahnya mendidih dan mengalir terbalik. Panas melonjak seluruh tubuhnya, dan amarah yang tak tertahankan menggelegar di dalam dirinya.
‘Untuk bertahan hidup sendirian?’
Swoosh!
Dalam amarahnya, pedangnya goyah, dan tangan Cheon Myeon Susa menusuk masuk, mengenai dada Jongli Hyeong.
Jongli Hyeong memuntahkan darah dan tersendat mundur. Tetapi kebencian yang berkobar dalam matanya tidak ditujukan kepada Cheon Myeon Susa.
“Beop…”
Dari lubuk perutnya yang terdalam, kemarahan yang tak terkendali meledak menjadi jeritan.
“Beop Joooooooooooooong!”
Suara itu terdengar seperti raungan putus asa yang mengguncang seluruh medan perang.
❀ ❀ ❀
Tatapan merendahkan itu menusuk kulit hangusnya.
Lalu, suara penuh otoritas dan kemegahan bergema.
“Seorang penguasa harus selalu menjaga nyawanya dengan harga tertinggi.”
Namun, mungkin karena terlalu menekankan otoritas, suara itu terasa anehnya ringan.
Paeng Yeop diam-diam menyentuh pedang yang tertancap di sisi tubuhnya. Tangannya bergetar tak terkendali. Karena terlalu parah terkena panas, memegang dan mencabut pedang menjadi tidak mungkin.
Dan sejujurnya… meski dia bisa memegang dan mencabut pedang itu, hasilnya tidak akan banyak berubah. Itu bukan satu-satunya senjata yang tertanam di tubuhnya.
“Kau mungkin punya kemampuan memimpin sebuah keluarga, tapi kau tidak memiliki kemampuan menjadi penguasa yang layak.”
“…”
“Tak peduli seberapa kuat kelompok itu, tanpa kepalanya, itu akan menjadi kerumunan yang kacau. Seharusnya kau kabur daripada melawanku, meski itu berarti meninggalkan semua orang di sini untuk mati.”
Paeng Yeop terbatuk lemah, suara seperti angin yang lolos dari bibirnya.
Mungkin kata-kata itu benar.
Melihat kondisinya sekarang, bukankah itu bukti bahwa kata-kata pria itu benar? Tubuhnya yang tertusuk senjata dan tidak bisa jatuh dengan sendirinya, menunjukkan kebenaran pernyataan pria itu.
Dia tidak percaya itu adalah perbedaan kemampuan.
Perbedaannya hanya pada pola pikir. Kesadaran dingin yang memungkinkan seseorang untuk bertarung di garis depan dan memerintah banyak orang untuk mengkoordinasikan serangan tanpa ragu-ragu – itulah yang tidak dimiliki Paeng Yeop.
Bagi seorang seniman bela diri, hal itu memalukan, tetapi bagi seorang pemimpin kelompok, tidak ada pilihan yang lebih rasional dan penting.
Paeng Yeop memaksakan matanya terbuka, yang terus ingin menutup, dan melihat sekeliling.
Di belakang Lord Istana Matahari yang berdiri dengan sombong, terjadi pemandangan mengerikan.
Di tengah kematian yang tak terhitung, dia bisa melihat anggota keluarga Paeng yang melakukan upaya putus asa untuk melarikan diri. Meskipun penglihatannya kabur, dia bisa melihat mereka dengan jelas.
Hanya ada beberapa puluh orang. Dibandingkan dengan jumlah yang dia pimpin ke sini, itu seperti setetes air di lautan.
Apakah pantas melemparkan nyawanya untuk menyelamatkan beberapa puluh orang itu?
“Pria kecil memberikan makna pada hal-hal yang tidak berarti. Tetapi penguasa sejati mempertaruhkan nyawa mereka hanya pada hal yang berharga. Kepala Shaolin itu tampaknya memahami hal itu.”
“…”
“Tidak mengetahui hal itu adalah alasanmu mati, yang hina.”
Tawa pahit keluar dari bibir Paeng Yeop.
“Berharga… ya…”
Penglihatannya menjadi kabur sampai sulit membedakan bentuk. Akhirnya, dunia mulai menggelap dari tepi ke pusat pandangannya.
Di saat-saat terakhirnya, dia melihat para pejuang muda dari keluarga Paeng menerobos pengepungan musuh.
“Yah, kalau begitu… kurasa…”
“Hmm?”
“…tidak buruk.”
Lord Istana Matahari mengerutkan kening saat dia melihat Paeng Yeop.
Tapi Paeng Yeop sudah kehilangan kekuatannya dan menundukkan kepala.
Duh.
Tubuh Paeng Yeop roboh ke samping. Keadaannya memilukan, dengan lebih dari selusin pedang tertancap di tubuhnya.
Penguasa Istana Matahari menyaksikan dalam diam sejenak sebelum mendengus dan berbalik.
“Kematian yang memilukan.”
Suara tanpa perasaan itu samar-samar terdengar di telinga Paeng Yeop.
‘Saudaraku…’
Di dunia yang semakin gelap, tatapan saudaranya muncul samar-samar di hadapannya.
‘…Aku tidak menyesal.’
Dalam cengkeraman kematian yang dingin, pupil kosong Paeng Yeop mencari sesuatu yang tak bisa dicapai.
‘Atau lebih tepatnya… sebenarnya…’
Tangan Paeng Yeop jatuh lemas.
Senjatanya yang dicintai, yang terbuang di sisinya, diam-diam meratapi kematian kesepian itu.
Terakhir dibaca: Bab 1593 · posisi baca tersimpan otomatis
Komentar Bab