Kembalinya Sekte Gunung Hua Bab 1573

Bab 1573

화산귀환

Penerjemah: Chen

Ini bukan sekadar rubah. (3)

Siiiuuu!

Tiga tombak bercahaya meluncur tepat mengarah ke Jo Geol. Seolah membuktikan bahwa julukan “Delapan Belas Benteng Sungai Yangtze” bukanlah gelar kosong, tombak-tombak yang mereka lemparkan secepat dan semenantang ular berbisa, bahkan di daratan.

Namun berbeda dengan tombak hitam kelam itu, pedang putih Jo Geol bergerak dua kali lebih cepat.

Dung! Dung! Dung!

Pedangnya menyambar di udara seperti sambaran petir, membelokkan ketiga tombak itu sekaligus dan menusuk dada para perompak.

Kres!

Pedang yang merobek otot dan menembus jantung itu langsung ditarik kembali tanpa ragu untuk menarget musuh berikutnya.

“Gerak!”

Jo Geol mendorong tubuh tak bernyawa itu dengan bahunya, tidak ingin membuang waktu meski hanya saat tubuh itu jatuh.

Duum!

Mayat-mayat itu terlempar ke udara, dan menggunakan mereka sebagai perisainya, Jo Geol maju cepat sambil menebaskan puluhan serangan pedang ke arah para perompak yang terkejut.

Wusss!

Itu adalah teknik pedang yang cepat dan mematikan, sampai-sampai musuhnya tidak sempat memahami kematian mereka hingga jantung mereka tertusuk. Tak heran dia disebut “Satu Pedang Pemisah Cahaya.”

“Bajingan!”

Namun para musuh tidaklah mudah dikalahkan.

Puluhan kabel logam panjang melayang ke arah Jo Geol seperti ular hidup. Kait besi mengerikan di ujungnya berkilauan mengancam di bawah sinar matahari.

Ini adalah kail panjat besi [철구삭(鐵鉤索)], senjata termodifikasi yang digunakan oleh Sekte Jahat untuk menangkap musuh kuat.

Pemandangan kawat besi yang tak terhitung jumlahnya meluncur cepat ke arah Jo Geol ibarat menyaksikan puluhan ular berbisa melompat ke arah seekor harimau yang terjebak di lubang mereka.

Namun Jo Geol bahkan tidak melirik kait besi itu. Dia hanya menerjang maju. Yoon Jong, yang telah melompat melewati kepala Jo Geol, mengayunkan pedangnya di udara.

Swish!

Pedang itu membelah menjadi puluhan garis, menyebar seperti kipas. Menjerat semua kawat yang menggeliat.

“Haaah!”

Pada saat yang sama, pedang Yoon Jong menebas ke bawah dengan kekuatan dahsyat.

Boom!

Serangan yang cukup kuat untuk menghancurkan tanah!

Kawat-kawat yang terjerat oleh pedang menggeliat seperti danau yang dilempari batu besar. Para perompak di ujung kawat tidak mampu menahan kekuatan tersebut dan terlempar menghantam tanah.

“Gah!”

Dampaknya terasa seperti organ dalam mereka hancur berkeping-keping. Namun sebelum para perompak sempat meringkuk kesakitan, pedang Jo Geol sudah meluncur menuju mereka.

“Teruskan!”

“Ya!”

Segalanya terasa hidup.

Alur-alur pada gagang pedang terasa seperti lembah dalam dalam genggamannya. Napas musuh terdengar keras seperti guntur.

Jo Geol semakin mempertajam indranya yang sudah tajam, mengasahnya sampai setajam mata pisaunya.

Swish!

Serangan pedangnya melesat sekali lagi. Dia sama sekali mengabaikan pertahanan, mengerahkan seluruh tenaga ke dalam serangannya.

Tombak-tombak laut dilemparkan ke arahnya dengan ganas, bersilangan dengan energi pedang Jo Geol di udara.

Swoosh!

Suara itu seperti dahan-dahan yang saling bergesekan di hutan lebat sebelum angin kencang datang. Energi pedang Jo Geol menembus tubuh para perompak satu demi satu dengan cepat.

Jeritan kesakitan dan raungan kematian meledak di mana-mana.

Itu adalah pemandangan yang diciptakan oleh satu tebasan pedang saja. Meskipun serangan itu sangat dahsyat, harga yang harus dibayar adalah Jo Geol tidak bisa memblokir satu pun tombak yang terbang ke arahnya.

Namun, tidak ada jejak ketakutan pun dalam matanya.

“Sialan…!”

Di saat itu, Lee Songbaek yang berada di belakang langsung terkejut.

“Bajingan-bajingan ini lagi!”

Duar!

Yoon Jong melompat dengan segenap tenaga. Dia mengalihkan tombak-tombak yang mengarah ke Jo Geol dalam sekejap. Jo Geol terus maju tanpa sempat menoleh pun ke arah Yoon Jong.

Lee Songbaek merasakan hawa dingin merambat di tulang belakangnya.

‘…Bagaimana.’

Bagaimana bisa seseorang menitipkan nyawanya pada orang lain sepenuhnya tanpa ragu sedikit pun? Jika Yoon Jong sedetik saja terlambat, Jo Geol sudah tidak hidup lagi.

Kepercayaan seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki oleh orang yang waras. Apakah benar-benar ada orang yang bisa saling mempercayai sejauh itu? Kekuatan yang dihasilkan dari ikatan sedalam itu benar-benar luar biasa.

“Aaaaagh!”

“Urgh!”

Hutan yang terbuat dari manusia dan niat jahat itu roboh seolah-olah bertemu dengan kebakaran hutan.

“Sialan!”

Wajah Lee Songbaek berubah tanpa sadar.

Yang di depan sedang menebas musuh, sementara dia nyaris tidak bisa mengikuti meski sudah berlari secepat mungkin. Bukan karena seni bela dirinya kurang—dia memang tidak bisa merespons kekuatan dahsyat yang mereka tunjukkan dalam waktu singkat itu.

Namun justru karena hal itu, membuatnya berharap.

‘Dengan ini, kita mungkin benar-benar…!’

Kali ini, mereka mungkin benar-benar bisa menjatuhkan Raja Naga Hitam!

Saat Lee Songbaek tengah menyimpan harapan dan melihat ke depan, Raja Naga Hitam mendengus dan melompat mundur.

“Hmph!”

“Oh….”

Mata Lee Songbaek membelalak.

Semakin mereka maju, dia semakin mundur. Manuver yang jelas sekali.

Tapi pada saat itu, Lee Songbaek harus menyadari mengapa bahkan mundur saja dianggap sebagai taktik penting dalam strategi militer yang tak terhitung jumlahnya.

Menarik musuh sedekat mungkin sebelum menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Manuver tunggal yang tepat waktu itu begitu membuat putus asa hingga sejenak menghancurkan tekad Lee Songbaek.

Di tempat dimana Raja Naga Hitam mundur, lebih banyak bajak laut berkumpul. Dan bukan hanya bertahan—semakin banyak bajak laut yang berkerumun ke lokasi itu, menimbulkan debu kuning dengan seragam biru mereka. Satu kata terlintas di benak Lee Song-baek.

Sungai. Rasanya seperti sungai besar.

Meskipun ini adalah tanah daratan, Raja Naga Hitam mengubahnya menjadi medan perang yang paling ia kenal dengan menggunakan bawahannya. Pemandangan itu begitu mengguncang hingga Lee Songbaek merasa napasnya tersengal.

“Geol!”

“Aku tahu!”

Dua sosok melompat ke sungai itu. Mereka menerjang langsung ke tengah rombongan bajak laut yang datang bagaikan gelombang.

Pemandangan itu seperti melihat belalang menangkis kereta kuda yang melaju kencang. Tapi berbeda dengan Lee Songbaek yang ragu secara naluriah, kedua orang itu bergerak tanpa sedikit pun keraguan.

“Sembrono…!”

“Amitabha!”

Saat itu, suara lantang memekakkan telinga terdengar di samping Lee Songbaek.

“Oooooh!”

Jubah biara Hye Yeon mulai mengembang seolah-olah akan meledak.

Bukan jubah kuning simbol Shaolin, juga bukan pakaian bela diri penuh warna Hwasan. Itu adalah jubah modifikasi, diadaptasi dari seragam hitam bela diri Hwasan.

Hye Yeon mengangkat tangannya dengan berat.

Wooooooong!

Tak lama kemudian, aura keemasan menyebar, menyelimuti Jo Geol dan Yoon Jong.

Kekuatan Agung Kekosongan [무상대능력(無上大能力) – mu-sangdae-neung-lyeog].

Puncak seni bela diri Shaolin. Kekuatan ini mendorong mundur bajak laut yang hendak menyerbu Yoon Jong dan Jo Geol dengan lembut namun kuat. Cahaya keemasan mendorong arus keruh sungai.

“Ugh!”

“Tertolak… ugh!”

Karena serangan tak terduga, musuh-musuh itu terhuyung. Di celah itu, pedang Jo Geol bersinar.

Kwadeuk!

Dalam sekejap, mereka yang tertusuk di dada roboh, memercikkan darah.

‘Apa ini akan berhasil?’

Tidak. Tak ada alasan untuk berpikir atau meragukan.

Maju terus saja. Tidak masalah jika pedangnya tidak mengenai Raja Naga Hitam. Jika dia jatuh karena kelelahan, orang-orang di belakang pasti akan membuka jalan yang tersisa.

Jadi, maju lebih jauh lagi!

Paaaaaat!

Gerakan Jo Geol menjadi semakin cepat.

Persatuan Tubuh dan Pedang [신검합일]. Keadaan menjadi satu dengan pedang.

Tubuh Jo Geol, yang telah melampaui bahkan keadaan itu, mulai bergerak secepat pedangnya. Hal itu hampir terlalu sulit bagi Yoon Jong untuk diikuti.

Paaaaaat!

Dalam sekejap, energi pedang terbelah menjadi puluhan bagian. Itu bukan hanya energi pedang tersebar dari Hwasan. Seperti bunga plum yang tersebar namun tidak bergoyang, itu adalah energi pedang khas Jo Geol.

Sesaat, wajah Raja Naga Hitam mengeras saat ia mencoba mundur lebih jauh.

Fwaaaah!

Jo Geol mempercepat sekali lagi, menerjang ke arah Raja Naga Hitam seperti energi pedang miliknya sendiri.

“Hup!”

Raja Naga Hitam mengangkat guandao-nya dengan tergesa-gesa.

Kwadeuk!

Pada saat itu, pedang Jo Geol menusuk pergelangan kaki Raja Naga Hitam, seperti anak panah yang ditembakkan ke burung rajawali yang sedang terbang tinggi!

“Ugh!”

Raja Naga Hitam mengejang, memelintir tubuhnya seperti ikan yang tersangkut kail.

“Dasar bajingan!”

Toooong!

Raja Naga Hitam mengayunkan guandao-nya secara diagonal ke atas, melemparkan Jo Geol yang masih mencengkeram pergelangan kakinya.

Tubuh Jo Geol terpelanting ke udara.

Pada saat itu!

Tahap!

Dari belakang Jo Geol, Yoon Jong yang selama ini seperti bayangan, tiba-tiba melompat ke atas.

Dengan satu tangan memegang pergelangan kaki Jo Geol, dia sekaligus melepaskan beberapa energi pedang gaya bunga prem ke arah Raja Naga Hitam.

Raja Naga Hitam mengayunkan guandaonya dengan keras, berusaha menangkis semua energi pedang yang datang, tetapi teknik pedang bunga prem milik Yoon Jong berhasil menembus celah-celah pertahanannya, halus seperti kabut.

Sret! Sret! Sret!

Darah muncrat ke udara dari tubuh raksasa itu, terpotong di banyak tempat.

“Kau tikus hina!”

Raja Naga Hitam mengaum, menarik kembali guandaonya. Energi gelap menempel pada mata pisaunya seperti awan.

“Ooooooh!”

Dengan suara seperti tali busur yang dilepaskan, mata pisaun melengkung guandao itu meluncur ke arah Yoon Jong dan Jo Geol, merobek udara.

“Haaaaap!”

Ketakutan. Membuat setiap helai rambut di tubuh Lee Songbaek berdiri tegak. Namun, dia memeluk rasa takut itu dan malah melemparkan dirinya maju.

Itulah perannya. Jalan yang harus dia lalui, tak goyah meski berarti menghadapi kehancuran.

Kwoooong!

Pedang Lee Songbaek bertabrakan langsung dengan mata pisaun Raja Naga Hitam.

Darah langsung muncrat dari mulutnya. Guncangannya begitu dahsyat hingga penglihatannya menjadi gelap sesaat.

Namun, meski mempertaruhkan nyawa dengan serangan itu, yang dia capai hanyalah memperlambat guandao Raja Naga Hitam untuk sesaat saja.

Dan dalam saat itu, biksu berjubah hitam yang mengikuti di belakangnya menyelam masuk ke celah tersebut.

Kwoooong!

Tinju yang membawa kekuatan luar biasa menghantam batang guandao, membuatnya berhenti mendadak.

Kwooooong!

Energi gelap yang memancar dari pedang itu nyaris mengenai Jo Geol dan Yoon Jong yang sedang melayang di udara. Sungguh beruntung mereka lolos.

“kalian…!”

Dug!

Tendangan marah dari Raja Naga Hitam mengenai sisi tubuh Hye Yeon. Meski dia sempat melindungi diri dengan menyilangkan lengan, tendangan itu tetap mendorongnya mundur sejauh tiga meter.

“Dasar bajingan!”

Matanya membara penuh kebencian yang dalam dan murka.

Namun, meski amarahnya memuncak, si rubah licik ini tidak kehilangan akalnya. Alih-alih terus menyerang, ia langsung mendorong tubuhnya menjauh dari tanah. Ia harus pergi dari sana segera.

Siip!

Namun pada saat itu, suara desiran tajam terdengar dari belakang. Karena kaget, Raja Naga Hitam secara refleks memelintir tubuhnya.

Cih!

Rasa sakit menusuk seperti terkena besi panas menjalar di punggungnya. Pedang Yu Iseol telah diam-diam menyayat punggungnya dengan ganas, meninggalkan luka panjang dan dalam.

Pada saat bersamaan, Jo Geol dan Yoon Jong memutar tubuh mereka di udara, kemudian menendang keras untuk mendorong diri mereka turun.

“Ooooooh!”

Raja Naga Hitam secara naluriah mengangkat cambuknya, guandao.

Klang!

Semakin genting situasinya, semakin responsif instingnya terhadap ancaman yang dirasakan tubuhnya. Mata pahat dari guandao berhasil memblokir serangan pedang Jo Geol yang datang bagaikan seberkas cahaya.

Sayangnya, ia tak bisa sepenuhnya memblokir serangan pedang Yoon Jong yang datang dari arah berlawanan.

Krak!

Pedang Bunga Plum milik Yoon Jong menembus celah di bahunya.

Meskipun itu adalah mata patah yang menembus tubuh manusia, suaranya mirip dengan palu yang memecahkan tulang. Suara ini tidak merambat melalui udara tetapi langsung menembus tubuh.

Energi internal yang ditransmisikan melalui pedang mengguncang bagian dalam Raja Naga Hitam. Gumpalan darah naik deras, dan bibirnya segera ternodai merah.

“Raja Naga Hitam!”

Pada saat itu, Baek Cheon yang sedang menggendong Namgoong Dowi di punggungnya menerjang langsung ke arah Raja Naga Hitam.

Mata Raja Naga Hitam yang tadinya kusam dan tidak fokus tiba-tiba menjadi jernih kembali.

“Uaaaaah!”

Otot-ototnya menegang. Bilah besar guandao jatuh ke arah kepala Baek Cheon, mengabaikan semua serangan lainnya. Ini adalah pukulan yang begitu dahsyat hingga membuat semua orang lain membeku karena terkejut.

“Dasar bodoh!”

Kaaaang!

Pedang yang memblokir serangan itu bukan lain adalah pedang Jongnam, yang diayunkan oleh Jin Geumryong. Dia menuangkan seluruh energi internalnya ke dalam bilah untuk melawan guandao Raja Naga Hitam.

Jin Geumryong yang telah memblokir dan melawan guandao itu mengeluarkan seteguk darah dan terdorong mundur, akhirnya roboh ke tanah.

Dengan darah yang disemprotkan di udara di antara mereka, tatapan Baek Cheon dan Raja Naga Hitam bentrok dengan sengit.

Swoosh!

Jari-jari Baek Cheon memutih karena terlalu erat memegang pedangnya. Darah dari luka-lukanya sendiri, musuh-musuh yang telah dia tebas, dan rekan-rekan yang berjuang membuka jalan, semua merendam mata pisaunya. Pedang yang basah oleh darah itu menebas udara bagaikan seberkas cahaya.

Crunch!

Semua orang mendengarnya. Suara cakar naga yang menghantam dengan ganas saat pedang itu menembus ulu hati Raja Naga Hitam, seperti kuku burung yang telah kehilangan sayapnya.

Terakhir dibaca: Bab 1573 · posisi baca tersimpan otomatis

Komentar Bab

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted