Bab 1533
화산귀환
Penerjemah: Chen
Apa yang kamu tahu? (3)
“Kamu bilang mereka telah membawa banyak putri keluarga?”
“Bukan dibawa, tapi menerima dukungan.”
“…Sepertinya sama saja untukku.”
“Itu ber-bed-a.”
“Begitu ya?”
Tang Gunak tertawa hambar. Dia pernah memikirkan untuk mengatur ulang para ahli bela diri klan Tang untuk digunakan sebagai tenaga medis, tapi dia tidak pernah membayangkan bahwa mereka akan melibatkan para wanita dalam keluarga.
Berbagai pikiran membanjiri benaknya secara bersamaan: penilaian terhadap ide tersebut, dampak di masa depan, dan reaksi negatif yang akan meledak dari segala penjuru.
Namun pada akhirnya, kata-kata yang keluar dari mulut Tang Gunak berbeda dari semua pikiran itu.
“Sepertinya kamu baik-baik saja.”
Sesaat, Tang Soso kehilangan kata-kata dan menatap Tang Gunak. Dia tersenyum tipis. Merasa malu, Tang Soso dengan cepat memalingkan wajahnya.
“Aku memang selalu baik-baik saja. Ayah saja tidak pernah tahu, Ayah.”
“Begitu ya?”
“Jangan setuju begitu saja.”
“Kalau begitu, aku tidak akan setuju.”
“…Apakah Ayah makan sesuatu yang aneh?”
Tang Soso menatap Tang Gunak dengan bingung.
Hal itu bisa dimengerti. Ayahnya adalah pria yang luar biasa lembut dengan putrinya, tapi ketika berkaitan dengan urusan keluarga, dia keras kepala seolah-olah dia orang yang berbeda.
Tapi sekarang, tidak ada jejak keras kepala yang menyiksa itu dalam diri Tang Gunak.
“Kakakku pasti sedang kesulitan.”
“Kamu bicara tentang Tang Pae?”
“Ya. Setidaknya aku bisa mengandalkan Hwasan, tapi untuk adikku, apa pun yang dia katakan tidak pernah dipandang serius. Meskipun dia adalah Tuan Muda, hari dia menjadi kepala keluarga masih terasa sangat jauh. Apa yang bisa dia lakukan?”
“Tidak perlu khawatir.”
“Apa?”
“Tang Pae juga akan melakukannya dengan baik.”
Dengan kata-kata tenang itu, Tang Soso tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutannya. Tapi tidak peduli bagaimana dia memandangnya, dia tidak bisa membaca makna lain dari wajah Tang Gunak.
“…Kamu benar-benar aneh.”
“Tidak ada yang aneh tentang itu,”
kata Tang Gunak dengan tenang.
Tentu saja, dia mengerti. Secara alami, akan ada berbagai masalah.
Dampak negatif dari anggota klan Tang yang ingin menjadi pejuang daripada tabib, para tetua yang tidak ingin melepaskan kendali kepada mereka yang masih begitu muda, dan keluhan dari sekte-sekte lain yang tiba-tiba merasa harus melindungi klan Tang yang dulu mereka lawan…
Kalau mulai khawatir tentang semua itu, tidak akan ada habisnya.
Tapi…
“Oh, ngomong-ngomong!”
“Hm?”
“Jangan ikut campur!”
Sebelum Tang Gunak sempat membuka mulut, Tang Soso mengulurkan tangannya dan membuat gerakan memotong, seperti memutuskan sesuatu.
Tang Gunak tersenyum pahit.
“Aku tidak tahu kamu bicara tentang apa.”
“Jangan pura-pura tidak tahu. Kamu pasti berpikir untuk tetap satu langkah di belakang, dan kalau ada yang tampak salah, kamu akan diam-diam ikut campur, kan? Menghancurkan anggota keluarga yang tidak patuh atau memberi tekanan pada sekte-sekte lain.”
“Aku?”
“Bukankah itu benar?”
Alih-alih menyangkal secara langsung, Tang Gunak menghindar sambil tersenyum. Tang Soso mendecakkan lidahnya seolah berkata, “Kan sudah kubilang.” Lalu dia berbicara dengan percaya diri.
“Aku bisa mengurusnya sendiri.”
“Bukan karena aku ingin meringankan bebammu. Tidak perlu memilih jalan yang sulit kalau ada yang lebih mudah.”
“Aku tahu. Tapi kalau kamu mulai ikut campur untukku, aku akan selalu bergantung pada kekuatanmu.”
“Hmm.”
Tang Soso menggelengkan kepalanya dengan tegas sambil melanjutkan.
“Ini bukan sekadar keinginan anak kecil untuk diakui atau mandiri. Kalau orang-orang tidak mempercayaiku dan justru mempercayai kekuatan di belakangku, akan ada masalah serius saat momen krusial tiba. Jadi, aku harus membuat mereka percaya pada Tang Soso, murid Hwasan, bukan Tang Soso, putri Tang Gunak.”
“Membuat mereka percaya…”
Tang Gunak menatap Tang Soso intens sebelum berbicara.
“Kamu pikir kamu bisa melakukannya?”
“Aku harus bisa.”
Senyuman Tang Gunak makin lebar.
“Untuk saat ini.”
“…Ya?”
“Aku percaya padamu.”
Mata Tang Soso yang penuh kejutan bertemu dengan tatapan penuh kasih sayang Tang Gunak di udara. Wajahnya sedikit memerah.
“Kamu benar-benar aneh hari ini.”
Dia cepat-cepat menoleh dan tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.
“Aku pergi dulu. Aku sibuk.”
“Sepertinya begitu.”
“Sungguh!”
Melihat putrinya bergegas keluar ruangan, tidak sanggup mengatasi rasa malunya, Tang Gunak tersenyum lebar.
❀ ❀ ❀
“Aku pasti mati nanti…”
Rintihan keluar dari bibirnya. Kelelahan setelah latihan, Jo Geol langsung roboh ke tempat tidurnya begitu masuk ke kamarnya.
Latihan Chung Myung yang mendorong orang-orang hingga batas kemampuan mereka seringkali terlalu berat bahkan untuk dirinya sendiri. Dan dia sudah mengalaminya berkali-kali.
Tapi kali ini, alih-alih mengeluh seperti biasa, dia menatap punggung orang yang masuk ke ruangan bersamanya.
Sebuah tangan yang perlahan dan lembut menyeka kotoran dari pedangnya. Lalu dia dengan teliti merapikan seragam usangnya. Gerakan-gerakan familiar itu disertai dengan lantunan pelan yang secara alami menenangkan hati.
‘Benar-benar…’
Jo Geol menggelengkan kepala.
Yoon Jong juga telah menjalani latihan yang sama, jadi pasti tidak akan lebih mudah baginya. Namun, berbeda dengan Jo Geol, dia tetap tenang. Tidak peduli seberapa lelah dan letih dia, dia tidak pernah mengabaikan tanggung jawabnya.
Ini adalah jenis ‘kekuatan’ yang berbeda dari sekadar kemahiran bela diri yang tinggi. Ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ditiru Jo Geol sepanjang hidupnya.
“Apa yang kamu lihat begitu saksama?”
Menyadari tatapan Jo Geol, Yoon Jong bertanya tanpa bahkan menoleh.
“Oh, tidak apa-apa…”
Jo Geol merasa malu dan memberikan jawaban yang vagu.
“Bodoh.”
Yoon Jong tidak bertanya lagi. Sebaliknya, tangannya bergerak sedikit lebih cepat saat membersihkan pedangnya. Dia mungkin ingin segera selesai agar Jo Geol bisa beristirahat dengan lebih nyaman.
Jo Geol yang tadinya menatap kosong, tanpa sadar mengucapkan sepatah kata.
“Sahyeong.”
“Hm?”
“Begini lho…”
Dia mulai ingin mengatakan sesuatu tapi kemudian menggelengkan kepala.
“Tidak apa-apa.”
“Kenapa kamu bertindak tidak seperti dirimu sendiri?”
“Mari kita matikan lampu dan tidur saja. Buat apa repot-repot? Besok juga pasti kotor lagi.”
“Aku selalu bilang, mengasah diri itu artinya—”
“Aduh! Mengomel lagi! Aku tidak bisa mendengarmu! Tidak bisa mendengarmu!”
“…”
Yoon Jong melirik Jo Geol dengan mata menyipit. Namun, Jo Geol dengan cepat memalingkan wajah ke arah lain, seolah-olah hanya membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik.
“Aku mau tidur dulu, jadi kamu juga sebaiknya tidur, Sahyeong.”
“…Baiklah.”
Yoon Jong menghela napas pelan saat memandangi Jo Geol yang sudah menghadap ke dinding.
Sebenarnya, dia tahu. Dia tahu pertanyaan apa yang akan diajukan Jo Geol.
‘Dia pasti cemas.’
Bagaimana mungkin dia tidak tahu? Setiap hari membawa mereka semakin dekat pada peperangan. Semua orang akan mengalami kesulitan yang tak terhitung dalam perang itu.
Tapi yang ditakuti Jo Geol mungkin bukanlah rasa sakit yang akan mereka hadapi dalam perang tersebut.
Sring.
Yoon Jong, setelah selesai mengasah pedangnya, memasukkannya ke dalam sarungnya dan mengikatkannya di pinggang sebelum berdiri.
Duk.
Saat pintu tertutup perlahan, Jo Geol menoleh ke arah pintu tempat Yoon Jong pergi.
“…Hoo.”
Desahan dalam yang tidak biasa keluar dari bibirnya.
Malam itu dipenuhi keheningan.
Langkah kaki Yoon Jong meninggalkan penginapan di Hwaeum, menuju Hwasan. Meskipun sebenarnya tidak perlu mendaki Hwasan karena semua orang, termasuk Pemimpin Sekte, untuk sementara waktu tinggal di Hwaeum, dia tetap pergi.
Di tengah keheningan, hanya suara langkah kakinya yang terdengar. Mata Yoon Jong tampak sangat lelah saat dia mendaki jalur curam Hwasan yang sudah sangat dia kenal.
Seberapa jauh dia sudah mendaki?
Dia menyimpang dari jalur yang familiar, bergerak semakin dalam ke wilayah yang terjal. Tempat yang begitu terpencil hingga bahkan binatang buas pun menghindarinya. Lembah dalam pegunungan Hwasan.
Saat dia menerobos hutan lebat yang gelap, suara tajam menembus udara dan sampai ke telinga Yoon Jong.
Whoosh!
Pandangan Yoon Jong mengikuti bunga plum yang mekar di puncak pepohonan lebat.
Bunga plum yang mekar dengan cerah di pegunungan gelap adalah pemandangan yang bahkan membuat Yoon Jong, seorang murid Hwasan, terpukau.
Dia mendekati tempat di mana bunga plum sedang mekar.
Tak lama kemudian, dia melihat seorang pria yang menciptakan bunga plum yang cemerlang dengan ujung pedangnya.
Whoosh!
Seragam putihnya bersih tanpa noda.
Ikat kepala yang diikat di dahinya.
Rambut hitam panjangnya berkibar dengan setiap lompatan dan ayunan pedangnya.
Di tempat paling dalam pegunungan Hwasan, tempat yang bahkan orang-orang yang familiar dengan daerah ini jarang menjelajah, Baek Cheon sedang mengayunkan pedangnya. Butiran keringat beterbangan dari garis rahangnya yang halus, dan bibir bawahnya digigit erat-erat. Hal ini saja sudah menunjukkan betapa intens Baek Cheon memaksakan dirinya.
Dan pada saat itu.
Whoosh!
Di ujung pedangnya yang diayun dengan penuh tenaga, bunga plum yang megah dan lebat mekar sempurna. Hutan hijau tua tampak mekar sekaligus, menciptakan pemandangan yang dipenuhi warna merah.
Bagaimana mungkin seseorang dapat sepenuhnya menggambarkan atau menjelaskan pemandangan ini dengan kata-kata? Ini adalah spektakel yang bisa membuat seseorang terpaku bahkan dalam mimpi sekalipun.
Dan tak lama kemudian, seluruh pemandangan itu memudar seolah-olah hanya sebuah ilusi belaka.
Seperti bunga plum yang mekar cerah selama satu musim, lalu dengan sendirinya gugur.
Yoon Jong memandangi pemandangan itu dalam diam.
Baek Cheon selalu menjadi orang yang melaju maju berkat bakat alaminya semata, membuat orang lain bahkan tidak bisa membayangkan untuk mengejarnya.
Tapi Yoon Jong tahu. Baek Cheon tidak sampai di titik ini hanya dengan bakat semata. Tanpa usaha keras yang dilakukannya secara diam-diam, dia tidak akan pernah menjadi Baek Cheon seperti yang sekarang ini.
“Hoo, haa.”
Baek Cheon dengan tenang menurunkan pedangnya, sedikit membungkuk di pinggang, sambil terengah-engah. Dia tampak kelelahan. Ini adalah sisi yang tidak pernah dia tunjukkan, bahkan di hadapan Lima Pedang.
Setelah menenangkan napas cukup lama, Baek Cheon menyeka keringat dari wajahnya dan berbalik.
“Kau di sini?”
Yoon Jong dengan ekspresi sedikit canggung, memberikan alasan.
“…Aku tidak benar-benar berniat mengintip Sasuk.”
Baek Cheon tertawa kecil.
Di mana mungkin ada pengintaian di antara murid-murid dari sekte yang sama yang belajar seni bela diri yang sama? Kata-kata Yoon Jong hanyalah upaya untuk membenarkan bahwa dia tidak sengaja mencari-cari latihan rahasia Baek Cheon.
“Apa pendapatmu?”
“Itu luar biasa.”
Baek Cheon berdiri tegak dan menatap langsung ke arah Yoon Jong.
Keringat telah memercik ke pedang, membuat ujungnya bersinar lebih dari biasanya.
“Hanya itu?”
Yoon Jong merespons dengan tenang.
“Cepat, intens… dan juga halus.”
Jalan sejati dari kebenaran [정도(正道)].
Ketika membahas ilmu pedang Baek Cheon, tidak mungkin untuk mengabaikan konsep jalan yang benar.
Namun di saat yang sama, ilmunya juga berani dan kuat. Meskipun seseorang memahaminya, tetap sulit untuk meniru pedang Baek Cheon.
Teknik pedang yang sama akan sangat berbeda tergantung pada siapa yang menggunakannya.
“Apakah itu saja?”
Yang tidak biasa, Baek Cheon malah mendesak Yoon Jong untuk berkata lebih banyak, seolah meminta sedikit pujian tambahan.
Yoon Jong menatapnya dengan penuh perhatian.
Matanya yang biasanya sipit dan tersembunyi serta sulit ditebak, kini memandang Baek Cheon dengan serius hingga terasa menggentarkan.
Dalam suasana yang berat dan canggung itu, Baek Cheon yang bicara duluan.
“Saya tahu. Masih panjang jalan yang harus ditempuh. Karena itulah saya berlatih secara diam-diam seperti ini…”
“Sasuk.”
Suara Yoon Jong memotong ucapan Baek Cheon.
Setelah hening sejenak, Yoon Jong kembali berbicara, ucapannya terdengar berat.
Kata-kata itu, yang begitu sulit diucapkan, seakan memotong seperti mata pisaunya.
“Kau akan mati.”
Di suatu tempat, terdengar suara serangga berkicau.
Keheningan yang menyenangkan, bahkan terasa menyedihkan, seperti dinginnya fajar, menyelimuti kedua pria itu.
Terakhir dibaca: Bab 1533 · posisi baca tersimpan otomatis
Komentar Bab