Kembalinya Sekte Gunung Hua Bab 1532

Bab 1532

화산귀환

Penerjemah: Chen

Tahu nggak sih? (2)

Baek Cheon bersandar nyaman ke kursinya, seolah bertanya, “Apa? Apa yang aku katakan salah?” Mengingat para pemimpin setiap sekte yang hadir di Cheonumaeng berkumpul di sini, sikap seperti itu benar-benar tak terpikirkan.

Tapi tidak ada yang memperhatikannya. Malah, mereka tidak bisa. Pandangan mereka tertuju ke arah lain.

Alasannya sederhana… mulut Tang Gunak terbuka lebar.

Mulut Tang Gunak yang biasanya tegas dan rapat itu kini menganga lebar seperti orang bodoh, seolah dia baru saja melihat meteor jatuh ke kepalanya saat sedang tidur.

Ekspresi seperti itu di wajah Tang Gunak?

Pasti tidak pernah terlihat bahkan oleh putrinya Tang Soso, apalagi oleh orang tua kandung Tang Gunak sendiri.

Melihat pemandangan langka ini, rasa takut mulai membanjiri hati para hadirin.

Jo Geol, mengira Tang Gunak mungkin akan melemparkan hujan senjata tersembunyi beracun dari lengan bajunya kapan saja, menjadi orang pertama yang perlahan mundur, mencengkeram kursinya dan menjauhkan diri dari Baek Cheon.

“Ah…”

Lalu dia tersentak, melirik ke samping. Dia takut Yoon Jong akan menegurnya.

Tapi saat itu juga, Jo Geol melihat punggung Yoon Jong sudah jauh di depan.

‘Sahyeong?’

Bukankah dia selalu menekankan pentingnya kesetiaan ant sesama murid…?

Kreeek!

Di saat itu, terdengar suara kursi yang diseret dari seberang ruangan. Perhatian semua orang langsung tertuju pada Yu Iseol, yang kini sudah berada cukup jauh dari Baek Cheon, dengan wajah datar tanpa ekspresi apa pun.

“Panasss…”

“…”

“Benar-benar panas.”

“…”

Ini sama sekali bukan pengkhianatan. Ketika seseorang sudah membuat masalah sebesar ini, mustahil untuk memperbaikinya lagi.

Kalau misalnya Tang Gunak nekat memukuli Baek Cheon hingga tewas di depan mata Hyun Jong, bisa jadi Hyun Jong malah berkata, “Ho ho, mana mungkin sebuah jarum bisa membunuh orang? Pakai pedangku saja,” lalu menyerahkan pedang bermotif bunga plum miliknya.

Namun meski semua orang—termasuk Tang Soso—menatap cemas ke arah Tang Gunak, hanya Baek Cheon yang menatap lurus ke matanya dengan sikap cuek tak peduli.

Dalam suasana tegang yang hampir tak tertahankan itu, akhirnya…

“Jadi maksudmu, kamu lebih paham karena pernah merasakannya sendiri?”

“Iya.”

“Hmm.”

Ucapan Tang Gunak, alih-alih menjadi senjata tersembunyi, justru mengiris ketegangan udara.

“Haa…”

“Hoo…”

“Ngggh…”

Serentak, desahan lega terdengar dari seluruh penjuru ruangan.

“Amitabha… Amitabha… Amitabha…”

Hye Yeon terus-menerus mengucapkan mantra itu dengan rasa syukur tulus bahwa neraka tidak benar-benar terbuka di bumi. Baginya, sosok Tang Gunak tadi seperti Bodhisattva Avalokiteshvara. Sedangkan Baek Cheon, yang mungkin tampak seperti Asura menyeramkan bagi Hye Yeon, angkat bicara.

“Saya tidak bermaksud meremehkan Klan Tang Sichuan. Saya pastikan kepada Tuan Tang, tempat yang paling menghormati klan Tang di dunia ini adalah Gunung Hwa.”

“Itu…”

Sebelum Tang Gunak sempat menyelesaikan kalimatnya, Hyun Jong dengan cepat menyela dengan suara rendah.

“Semua pernyataan yang dibuat oleh Wakil Pemimpin Sekte hanyalah opini pribadi dan mungkin tidak mencerminkan sikap resmi Sekte Hwasan.”

Tang Gunak, untuk beberapa saat kehilangan kata-kata, menatap kosong ke arah Hyun Jong. Hyun Jong, seolah tidak sanggup menatap matanya, terus memandang keluar jendela yang jauh.

“…Ya. Kurasa… memang bisa saja begitu, Wakil Pemimpin Sekte.”

Tang Gunak berpikir dalam hati bahwa jika suatu hari nanti Hwasan terbakar lagi, penyebabnya mungkin bukan karena Sekte Iblis, melainkan orang seperti Baek Cheon.

Baek Cheon melanjutkan.

“Bukan saya yang meremehkan kemampuan klan Tang, tetapi justru Anda, Tuan Tang.”

“…Saya?”

Ekspresi bingung muncul di wajah Tang Gunak. Baek Cheon menjawab dengan tegas sambil menatap matanya.

“Ya. Soso tidak salah. Klan Tang dapat mengeluarkan kekuatan besar bahkan dengan hanya beberapa anggota, dan ketika mereka berdiri di belakang kita, kita bisa berjuang dua kali lebih keras.”

“Hmm…”

“Jika usulan Soso tidak sesuai dengan metode klan Tang, wajar jika ditolak. Tetapi mengatakan bahwa kita tidak bisa menerimanya karena Soso salah adalah hal yang sulit kami terima. Karena itu…”

Tatapan Baek Cheon beralih ke Tang Soso dan Tang Pae.

“Itu akan menjadi penghinaan bagi mereka yang telah melindungi nyawa kita di tempat neraca itu.”

Kelima Pedang mengangguk serempak dan menatap tajam ke arah Tang Gunak, dengan tatapan yang bisa dianggap sedikit provokatif.

Di hadapan tatapan itu, Tang Gunak merasakan emosi yang tak dikenal mendidih di dalam dirinya. Bangga? Kagum? Bukan.

Emosi yang sesaat melanda Tang Gunak bukanlah apa-apa selain kemarahan dan kebencian. Orang biasa mungkin sudah meledak, melampiaskan amarah itu kepada mereka. Tapi untungnya, Tang Gunak bukan orang biasa.

Alih-alih membalas dengan marah, dia justru terkejut sejenak oleh gelombang emosi yang begitu intens menyerbu dirinya. Dia mulai mempertanyakan perasaan itu.

Apakah pantas dia sebegitu marah? Sampai merasakan niat membunuh?

Tak lama kemudian, dia berhasil mengenali akar dari perasaannya. Bukan karena mereka ‘menentang’ dirinya, tapi karena ‘orang-orang itu’ yang menentangnya.

Sederhananya…

‘Mereka bukan lagi anak-anak.’

Ketika anak serigala menggigit kaki serigala tua, si tua akan menjilat anak itu atau membalas dengan gigitan ringan, sengaja tidak melukai tapi tetap memberi pelajaran.

Namun ketika serigala dewasa menggigit kaki, itu berujung pada pertarungan di mana salah satu pihak harus menyerah agar bisa berakhir.

Manusia pun sama. Dulu, dia sering berdebat dengan mereka. Tapi alasan mengapa perasaannya sangat berbeda kali ini adalah bukti bahwa dia kini menganggap mereka setara.

“Wakil Pemimpin Sekte.”

“Ya.”

“Apakah kata-katamu dimaksudkan untuk memuji usaha Sajilmu? Ataukah itu…”

“Tidak.”

Baek Cheon menggelengkan kepala sebelum kata-kata itu selesai diucapkan.

“Aku tidak maju ke depan sebagai senior mereka. Aku maju ke depan sebagai seorang pejuang. Tang Soso, dan Tuan Muda Tang, adalah pejuang yang secara alami pantas mendapat hormatku. Bukan karena status mereka, tapi karena kemampuan mereka.”

Lima Pedang, bahkan Chung Myung, mengangguk setuju seolah itu adalah hal yang paling wajar. Sementara itu, mata Tang Soso memerah karena emosi.

Tang Gunak diam-diam mengamati adegan ini, ada sedikit kedutan di sudut mulutnya. Orang-orang yang dia akui sebagai setara kini mengakui putri dan putranya. Ini berarti…

“Satu pertanyaan terakhir.”

“Ya.”

“Sebagai seseorang yang telah mengalami pertempuran paling banyak dalam Cheonumaeng, yang telah mengatasi kesulitan dari Hainan sampai ke sini, dan sebagai Wakil Pemimpin Sekte Hwasan, apa pendapatmu tentang argumen mereka?”

“…”

“Apakah menurutmu ada alasan bagi klan Tang untuk memilih jalan itu?”

Tatapan Baek Cheon menjadi semakin jernih dan tegas.

“Bukan tempatku untuk membicarakan urusan klan Tang.”

“…Begitu ya?”

Tang Gunak bergumam. Baek Cheon menambahkan.

“Tapi jika aku adalah kepala Klan Tang Sichuan, aku tidak akan mengabaikan pengalaman dan pendapat orang-orang yang akan memimpin klan Tang di masa depan.”

Meskipun pertanyaan itu ditujukan dengan mempertimbangkan Tang Soso, jawabannya diberikan dengan memikirkan Tang Pae. Tapi itu tidak masalah. Baik Tang Soso maupun Tang Pae telah menyelaraskan pendapat mereka.

Ekspresi Tang Gunak menjadi berat. Semua orang menonton dalam diam, menunggu keputusan yang akan dia buat.

Tang Gunak sempat menoleh ke arah Chung Myung. Dikenal sebagai orang yang banyak bicara, keras, dan selalu siap maju ke depan, namun sejak diskusi dimulai dia tidak mengeluarkan satu pendapat pun. Dia hanya berdiri dengan bersandar, tangan disilangkan di dada, di belakang Lima Pedang.

Tang Gunak memberikan senyuman yang sedikit canggung.

“Kalau begitu, aku…”

❀ ❀ ❀

“Aduh!”

Jo Geol menjerit dan melompat. Sekali lagi, jarum menusuk ujung jarinya. Tanpa menoleh pun ke arahnya, Yoon Jong berkata,

“Berhenti mengeluh. Kamu bahkan tidak mengerang ketika pedang menusuk perutmu.”

“Uh. Ini dan itu sakitnya beda!”

“…Kamu tidak akan pernah mengalahkan klan Tang sepanjang hidupmu.”

“…Maaf?”

“Tidak apa-apa.”

Yoon Jong menggelengkan kepala.

Pada akhirnya, Tang Gunak memutuskan untuk menerima saran dari Tang Soso. Meskipun syaratnya adalah akan diuji dulu sebelum perang dan akan dicabut jika terbukti tidak cocok, ini praktis merupakan persetujuan.

“Sejujurnya, bukankah ini keterlaluan?”

Jo Geol berkata sambil menatap Yoon Jong dengan tidak percaya.

“Membagi klan menjadi faksi-faksi kecil berarti perintah Tuan tidak bisa langsung diberikan. Itu artinya nyawa anggota klan Tang ada di tangan perintah orang luar.”

“Itu benar.”

“Bisakah kamu membuat keputusan seperti itu, Sahyeong?”

“Apa istimewanya?”

“Ini masalah besar! Apakah kamu rela mati menjalankan perintah Penguasa Istana Es?”

“Tuan Seol adalah orang luar biasa. Tentu saja aku akan mengikuti perintah mereka…”

“Lalu bagaimana dengan Tetua Han?”

Yoon Jong terdiam. Alisnya justru berkedut-kedut.

“Bukan Elder Han, tapi bagaimana kalau itu salah satu tetua dari Istana Es?”

“Uh.”

Akhirnya, Yoon Jong menghela napas dengan keluhan.

“Iya, kamu benar. Di bawah sistem sebelumnya, hal seperti ini tidak akan pernah terbayangkan.”

“Bukankah begitu?”

“Karena itulah Lord Tang begitu luar biasa, kan? Dia menerimanya tanpa ragu-ragu.”

“…Apakah masih ada kemungkinan akan dicabut?”

“Kamu tidak cuma bilang itu karena tidak mau menjahit, kan?”

Ekspresi ragu Jo Geol menunjukkan bahwa dia benar.

“Berhenti mencari alasan dan lanjutkan saja.

Ingat apa yang dikatakan Soso tentang membawa siapa pun yang tidak bisa melakukannya dengan benar ke Korps Medis Cepat [신의단(迅醫團) – shinuidan]?”

“…Apa yang dia makan waktu kecil sampai jadi sekejam ini?”

“Dia tumbuh dengan makan racun.”

“Oh…”

Korps Medis Cepat. Berdasarkan pendapat Tang Soso dan Tang Pae, itu adalah unit sementara yang dibentuk di bawah Cheonumaeng. Tang Soso saat ini sangat sibuk mengorganisir dan mendidik para pejuang klan Tang serta wanita-wanita yang dilatih dalam pengobatan dan akupunktur, tidak termasuk para tetua.

Secara resmi, kepala Korps Medis Cepat adalah Tang Pae, Sang Tuan Muda, sementara Tang Gunak adalah kepala sesungguhnya. Namun, Tang Soso, seperti yang dia lakukan di Hwasan, secara efektif memimpin korps tersebut.

Jo Geol masih merasa dirugikan.

“Maksudku, semuanya berjalan sesuai dengan yang kamu katakan, jadi kenapa kita harus melakukan ini?”

“Bukankah sudah kubilang sepuluh kali? Meski ada dokter di belakang kita, beda banget antara pejuang yang tahu pertolongan pertama dengan yang tidak tahu. Cuma pengetahuan itu saja bisa menyelamatkan tiga dari sepuluh orang.”

“Uh.”

Jo Geol menggaruk kepalanya dengan keras. Dia nggak punya cara menang pakai logika, jadi harus cari cara lain, tapi itu sama sekali nggak cocok dengan sifatnya.

“Seriusan! Sasuk, kenapa kamu seneng banget sama ini?”

“…Kalau udah mulai, ternyata bikin candu.”

“Bagus, calon nona baik lagi nih!”

Di sisi lain, Baek Cheon seperti ikan dalam air, betah banget. Semua orang di sekitarnya memandang dengan kagum.

“Wah… lihat ini. Jaraknya pas banget, nggak ada bedanya sehelai rambut pun.”

“Lihat betapa rapatnya. Sampai bisa saring air hujan.”

“Sasuk, bisa nggak buatin motif bunga plum, bunga plum?”

“Itu bukan sulaman!”

Jo Geol menggerutu, melempar kainnya yang compang-camping karena kesal.

“Kenapa kita harus ngurusin ini sih? Kan yang penting jago pedang.”

“Biar jago pedang, ya harus ngurusin ini dulu.”

“Eh?”

Yoon Jong meletakkan kain yang sedang dia pegang. Jahitannya juga rapi kayak milik Baek Cheon.

“Aku baru sadar sesuatu tentang mereka yang susah dan marah-marah gara-gara nggak bisa ngelakuin ini dengan baik.”

“…Apa ciri-cirinya?”

“Mereka nggak sabaran, agresif, dan lebih suka ngayun pedang seenaknya daripada ikutin teknik yang baku.”

“Ha?”

“Ya, betul sekali. Orang sepertimu.”

Yoon Jong mendecakkan lidahnya.

“Ini soal kesabaran, bukan kemampuan semata. Pedang pun sama. Pedang yang tak bisa mengendalikan dorongan untuk diayunkan cepat dan kuat hanyalah pedang jahat.”

“…”

“Kalau kau ingin menjadi lebih kuat, pertama-tama pelajari dulu cara mengendalikan pedangmu.”

“Dia benar.”

Bahkan Baek Cheon mendukung Yoon Jong.

“Bagaimana mungkin orang yang tak bisa memegang jarum dengan benar bisa memegang pedang?”

“…”

“Entah itu pedang atau jarum, semuanya harus sempurna di tangan pendekar Hwasan. Jadi berhenti mengeluh dan lakukan yang terbaik. Itu akan menyelamatkan nyawamu dan nyawaku juga.”

“Ya!”

“Kami ingat, Sasuk!”

Baek Cheon mengangguk dan hendak kembali ke tempat duduknya ketika sesuatu menarik perhatiannya. Dia tiba-tiba berdiri dan mendekati meja di dekatnya. Yang menarik perhatiannya adalah selembar kain yang sudah hancur – benar-benar rusak total.

“Milik siapa ini?”

“…Uh, begini…”

“Bicara jelas. Siapa di antara kalian yang menjahit sampah ini? Bukankah sudah kujelaskan dengan jelas untuk teliti seperti saat berlatih ilmu pedang? Siapa yang membuat ini?”

“S-Sasuk, tentang itu…”

“Bicara jelas atau aku akan…!”

“I-itu hasil pekerjaan Chung Myung, Sasuk.”

“…”

Baek Cheon menatap kain yang tampak seperti coretan anak kecil, lalu diam-diam kembali ke tempat duduknya. Kemudian, dia melanjutkan menjahit dengan tenang.

❀ ❀ ❀

“Bagaimana?”

“Argh!”

<strong>Catatan terjemahan:</strong>

– “Sasuk” dibiarkan apa adanya karena merupakan panggilan khusus dalam konteks martial arts/pendekar

– Istilah “Hwasan’s swordsman” diterjemahkan sebagai “pendekar Hwasan” mengikuti konvensi novel pendekar populer saat ini

– Gaya bahasa dibuat alami dan mudah dipahami pembaca modern, sambil mempertahankan nuansa cerita tradisional

Terkejut, Tang Gunak tersentak dan mundur selangkah. Dia hanya bertanya bagaimana keadaannya, tapi putrinya yang cantik dan manis… kadang-kadang membuat frustrasi ini sedang marah-marah.

“Mengapa mereka tidak mau mendengarkan? Kenapa?!”

“…”

“Maksudku, meskipun mereka tahu lebih banyak tentang pengobatan, lalu kenapa? Pernahkah mereka berada di medan perang? Pernahkah mereka merawat orang saat pedang-pedang beterbangan? Mengapa mereka tidak diam saja daripada terus mengatakan omong kosong?”

Meskipun mereka keluarga, menyebut nama dan menghina mereka tampaknya keterlaluan… pikir Tang Gunak dalam hati.

“Sulitkah?”

“Tentu saja sulit!”

Dug!

Tang Soso menginjak lantai dengan keras, lalu berteriak dengan tatapan penuh semangat membara.

“Tapi itu harus dilakukan!”

“…Hmm.”

“Bukan karena mudah, tapi karena memang harus dilakukan! Aku lebih baik menanggung sakit kepala ini sekarang daripada menangis di depan orang yang sekarat nanti!”

Kata-katanya tegas dan penuh tekad. Melihat putrinya yang begitu bertekad, Tang Gunak tersenyum tipis.

“Kau benar-benar putriku.”

Itu adalah pernyataan dari kepala keluarga sekaligus seorang ayah.

Terakhir dibaca: Bab 1532 · posisi baca tersimpan otomatis

Komentar Bab

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted