Bab 1589
화산귀환
Penerjemah: Chen
Lalu siapa sebenarnya mereka itu? (9)
Menembus kegelapan, mata Cheon Myeon Susa [Master of the Thousand Faces], Dam Yeohae, memancarkan niat membunuh yang tajam.
Rongga tekaknya terasa kering, atau mungkin dia merasakan dahaga yang tak bisa dipadamkan, sementara dia terus menjilat bibir gelapnya.
Seseorang mungkin akan menghina dia karena dianggap sembrono.
Namun jika ada orang lain yang melihat situasi yang tersusun sempurna ini terjadi di depan matanya, mereka pasti akan merasakan dahaga yang sama.
‘Ryeonju.’
Apakah dia benar-benar tahu? Saat tepat kapan bala bantuan Sapaeryeon akan tiba?
Dari arah mana mereka akan menyerbu?
Mustahil.
Namun, peristiwa luar biasa ini sedang terjadi saat ini. Seolah-olah Jang IIso telah berperang tepat di sisinya, membimbingnya, menciptakan skenario paling sempurna untuk membuat Haomun melakukan pembantaian besar-besaran.
Musuh besar dengan anggota tubuh terpotong sedang menggeliat kesakitan. Kapan saja, dia bisa merobek perutnya dan melahap isi perut yang masih hangat.
“Serang!”
“Iya!”
Kekuatan dalam berputar-putar di sekitar tangan Dam Yeohae.
‘Kapan semua ini dimulai?’
Orang yang tadinya hanya dia anggap gila, tapi kini tidak berani lagi menyebutnya demikian, telah mulai menggambar pemandangan besar ini.
‘Sudah berapa lama dia menunggu?’
Menunggu momen untuk menusukkan pedang tajam bernama ‘Istana Matahari’ ke punggung musuh-musuh yang menyerbu tanpa curiga!
Menguasai Yunnan dan Sichuan dilakukan demi langkah satu ini. Untuk menyembunyikan serangan pamungkas ini, yang akan menghantam Hubei seperti petir, sampai akhir!
Apakah mereka berani membayangkan skema besar dan jahat ini?
“Hancurkan semua! Tunjukkan kekuatan Laut Selatan kepada para bodoh Dataran Tengah itu!”
Raungan yang cukup keras untuk membuat gendang telinga pecah bergema.
Istilah ‘bodoh Dataran Tengah’ agak mengganggu, tapi itu tidak penting.
Suara itu, yang dipenuhi energi internal, akan menimbulkan ketakutan yang lebih besar pada musuh.
Dan sebenarnya, satu bagian dari pernyataan itu sangat memuaskan.
Wiiiiing!
Kekuatan internal yang melilit tangan Dam Yeohae mulai melonjak seperti badai.
Ditingkatkan sampai topeng wajahnya hampir terkelupas, Dam Yeohae berteriak dengan segenap kekuatannya.
“Saatnya merebut Dataran Tengah!”
Haomun dan Istana Matahari.
Dua belati tajam milik Jang Ilso melesat menuju mangsa mereka yang terjebak dalam perangkap.
“H-Haomun! Haomun telah muncul!”
“Yang lain lagi di sana! Kekuatan tak dikenal mendekat dengan cepat!”
“Pemimpin Sekte, situasi telah berubah! Mohon berikan kami perintah, Pemimpin Sekte!”
Teriakan bergema dari segala arah, tetapi Jongli Hyeong berdiri dalam keadaan linglung, dengan kosong memperhatikan sosok-sosok yang berlari menuju mereka.
‘Istana Matahari?’
Dia sudah menduga Haomun akan datang. Tidak menantikannya justru akan lebih aneh, mengingat mereka dengan bangga memegang salah satu pilar Sapaeryeon, dan tidak masuk akal jika mereka tidak muncul ketika pemimpin mereka sedang dalam bahaya maut.
Namun, alasan mengapa Jongli Hyeong bisa membawa semua orang ke tempat ini adalah karena keyakinannya yang tak goyah bahwa, meski Haomun bergabung, mereka tetap tidak akan kehilangan keunggulan mereka.
“Mengapa… mengapa mereka memihak Sapaeryeon?”
Namun keyakinan itu hancur berkeping-keping dengan kemunculan Istana Matahari.
Lima Istana di Balik Perbatasan. Meski mereka tidak dekat dengan Para Sekte Benar, tapi mereka bahkan lebih jauh dari para Penjahat. Mengapa mereka tiba-tiba memutuskan untuk membantu Sapaeryeon? Mengapa!
“Ketua Sekte!”
Teriakan putus asa lainnya menusuk telinganya, akhirnya membuat Jongli Hyeong kembali sadar.
‘Kita harus melarikan diri…’
Mereka harus kabur.
Bahkan dalam formasi yang terjaga dengan baik, mereka nyaris tidak bisa menyamai kekuatan lawan.
Menghadapi mereka dalam keadaan kacau seperti ini? Hasilnya sudah jelas.
Sangat menghancukkan.
Tapi melarikan diri tampak hampir mustahil.
Maninbang dan Hantu Hitam mengekor mereka seperti serigala kelaparan, menggigit tumit mereka. Yang lebih buruk lagi, struktur komando sudah lama runtuh – tidak ada cara untuk mundur secara terorganisir, dan perintah-perintah Jongli Hyeong bahkan tidak sampai kepada murid-muridnya.
Bagaimana mungkin mereka bisa melarikan diri dalam situasi seperti ini?
“Ini, ini bukan salahku… bukan salahku! Ini bukan kesalahan yang kulakukan…”
“Ketua Sekte!”
Seseorang meraih bahunya dan menggoyang-goyangnya dengan kasar.
Pulihkan dirimu, Ketua Sekte! Jika kau tidak memberikan perintah sekarang juga, kita semua akan mati!”
Di saat itu, Jongli Hyeong melihatnya.
Haomun dan Sun Palace, setelah melaju menembus daratan luas, menerjang ke medan perang dengan seluruh kekuatan mereka, bagaikan gerombolan semut.
“Uaaaahhhh!”
“Aaaargh!”
Tak terhitung kepala dan tubuh beterbangan ke udara.
Mereka tidak membeda-bedakan teman maupun musuh. Daripada kehilangan momentum dengan memilah-milah antara kawan dan lawan, mereka membunuh apa pun yang terlihat.
Strategi yang kejam dan tanpa belas kasihan itu ternyata sama efektifnya.
Kejutan dan teror yang mentah membuat para murid Gupailbang kewalahan. Jongli Hyeong pun tak terkecuali.
“B-Berlari lah.”
“Sekti Guru!”
“Lari! Kita harus segera keluar dari sini! Sekarang juga!”
“Sekti Guru, tenanglah dulu! Pertama…”
“Bodoh! Tidak bisakah kau lihat musuh di belakang kita? Apa maksudmu tenang?”
Jongli Hyeong berteriak sambil menyalurkan energi dalamnya ke pedangnya.
Mereka akan mati.
Bukan para penyerang ganas yang menerobos masuk yang dia takuti.
Yang ditakuti Jongli Hyeong adalah pasukan di belakang, perlahan mengencangkan pengepungan, memanfaatkan kesempatan ini.
Begitu terkepung, tidak akan ada jalan keluar. Mereka tidak akan meninggalkan satu pun korban selamat. Mereka akan membunuh setiap anggota Gupailbang yang ada di tempat ini, sampai ke semut terakhir sekalipun.
“Para Tetua, bukalah jalannya! Kita harus menerobos keluar dari sini. Tebas semua orang itu dan bukalah rute pelarian!”
Mata Jongli Hyeong berkilat-kilat dengan campuran keganasan dan ketakutan. Di hadapan rasa takut akan kematian yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan kemampuan bela diri yang telah dia kumpulkan selama bertahun-tahun pun terasa sia-sia.
Sebelum tiba di sini, mereka adalah para seniman bela diri yang bangga, tapi sekarang mereka telah berubah menjadi binatang buas yang berebutan untuk bertahan hidup. Dengan perjuangan putus asa Jongli Hyeong sendiri, rasa takut yang selama ini dipendam dengan susah payah akhirnya meledak keluar.
“L-Lari cepat!”
“Kita semua akan mati! Kalau kita tetap di sini, kita semua akan mati!”
Kekacauan jenis lain pun terjadi.
Ini bukan duel dan bukan juga pertukaran ilmu bela diri layaknya para cendekiawan.
Ini adalah peperangan murni. Pihak yang kehilangan momentumnya akan kalah.
Namun para murid Kongtong tidak memiliki pengalaman untuk memahami hal itu, dan mereka runtuh, bahkan tidak mampu lagi memikirkan cara untuk tetap berkumpul.
Rasa takut mengalir deras bagaikan banjir bandang. Mereka yang terseret di dalamnya tersebar seperti percikan api dari tempa besi. Ini adalah momen ketika formasi mereka benar-benar runtuh dalam sekejap.
“Tidaaaaaak!”
Dia berteriak sampai tenggorokannya terasa seperti akan robek, tapi suara Beop Gye tidak sampai ke siapa pun juga.
Tanpa kesempatan untuk ikut campur, para murid Gupailbang mulai tersebar ke segala arah.
Keputusan ini adalah yang paling buruk dari semua kemungkinan.
Bahkan kalau tetap bersama pun sudah berbahaya, apalagi kalau berpencar? Itu sama saja seperti menawarkan leher mereka kepada musuh.
Bagaimana bisa mereka membuat pilihan sebodoh itu?
“Sahyeong! Para musuh…!”
Sebuah suara terus mendesak dari sampingnya. Mata Beop Gye sangat goyah.
‘Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?’
Dia mengira sudah berhasil mempojokkan mereka.
Tapi Istana Matahari Laut Selatan, yang seharusnya berada sangat jauh di sana, muncul di tempat ini. Ini berarti bahwa tempat ini adalah jebakan yang sudah lama disiapkan oleh Sapaeryeon.
Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi? Bagaimana mungkin ada orang yang…
“Sahyeong!”
Suara marah itu akhirnya menembus telinganya. Beop Gye menggigit bibirnya sampai berdarah.
Tidak ada gunanya. Pikiran-pikiran seperti itu tidak berguna lagi sekarang.
Yang perlu dia lakukan adalah mencari cara membalikkan keadaan ini. Dan entah bagaimana mengatasinya.
Keruntuhan ini belum sepenuhnya di luar kendali, jadi masih ada kesempatan untuk pulih. Pasti…!
“Para tetua, ikuti saya! Pertama…”
Tapi saat itu juga.
“Kamu pikir mau kemana?”
Suara sesuatu yang tajam menggesek tanah menyertai langkah perlahan seseorang mendekati Beop Gye.
Wajah Beop Gye menjadi tegang.
Jeok Ho.
Pria yang hanya kehadirannya saja sudah membuat Beop Gye tertahan itu akhirnya mulai bergerak.
“Ini…”
“Saya sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Mungkin saya tidak sekenal para biksu Shaolin, tapi saya rasa saya tidak pantas diabaikan seperti ini.”
Pedang Jeok Ho mengeluarkan suara geraman mengancam, dengan jelas menunjukkan bahwa dia tidak akan membiarkan mereka pergi begitu saja.
“Jika kamu masih memilih mengabaikan saya, maka saya tidak punya pilihan selain membuktikan diri.”
Mata Jeok Ho menatap Beop Gye seperti mata harimau, dan tak lama kemudian, Anjing Merah yang dia pimpin menggeramkan gigi, menerjang para tetua Shaolin.
‘Ini…’
Wajah Beop Gye menjadi pucat pasi.
Meskipun pasukan utama mereka ditembus tanpa perlawanan yang memadai, para pria ini tidak meninggalkan sisi Jang Ilso.
Tentu saja, Beop Gye percaya bahwa tujuan mereka adalah menyelamatkan Jang Ilso dan membunuh Beop Jong. Bagaimana mungkin dia berpikir lain?
Tapi tujuan mereka berbeda.
Saat ini, maksud mereka adalah mengikat mereka yang akan maju untuk menstabilkan Gupailbang yang goyah. Itulah tujuan di balik penahanan diam-diam mereka, meski harus mengorbankan banyak nyawa.
Ini tidak lebih dari ejekan menyeluruh. Dan pikiran Beop Gye terbukti benar. Saat ini juga, Paeng Yeop dikelilingi oleh Para Anjing Merah.
Beop Gye mengertakkan giginya dan bertanya.
“Apakah ini sudah direncanakan sejak awal?”
“Tentu saja tidak.”
Jeok Ho mencibir, mengangkat bahunya dengan santai.
“Tidak ada yang bisa memahami niat sebenarnya Ryeonju. Kami hanya percaya bahwa dia memiliki tujuan.”
“Bahkan saat bawahanmu sedang dilumpuhkan?”
“Apakah itu seharusnya menjadi hal yang penting?”
Crunch.
Beop Gye mengepalkan tinjunya erat-erat.
Untuk menipu musuh, kamu harus menipu sekutumu dulu. Jang Ilso telah melaksanakan prinsip ini dengan sempurna.
Karena itulah mereka tidak menyadarinya. Teriakan-teriakan, ketakutan yang jelas terlihat, keraguan sesaat di wajah mereka saat mati di tangan Sekte-SEkte Benar – semuanya nyata.
“…Belum berakhir. Jika aku mengambil nyawamu dan Jang Ilso jatuh, hasilnya akan sama saja.”
“Kau benar.”
Membunuh Jang Ilso.
Untuk Jeok Ho, ini adalah pernyataan yang hampir menghina, tetapi dia mengejutkan semua orang dengan mengangguk setuju. Loyalitasnya kepada Jang Ilso berbeda dari mereka yang bereaksi berlebihan hanya karena penghinaan kecil.
Jeok Ho menyeringai.
“Tapi kamu masih meleset dari intinya.”
“…Apa maksudmu?”
“Kamu seharusnya merespons dengan cara lain. Orang yang harus kamu waspadai saat ini bukan aku maupun Ryeonju.”
Kebingungan melintas di mata Beop Gye. Lalu dia tersadar – semua ini cuma pengalihan perhatian. Saat dia hendak berteriak untuk membungkam mulut jahat itu, bibir tebal Jeok Ho bergerak lebih dulu.
“Dia bukan orang yang aku sukai, tapi aku harus mengakui. Pria paling berbahaya di medan perang ini adalah…”
“…Siapa?”
Saat itu juga.
Paaah!
Sebuah panji besar dikibarkan tinggi ke langit.
Di tengah-tengah kemah musuh, bendera warna-warni cerah menjulang tinggi, memperlihatkan seorang pria berdiri di pusatnya.
Pria itu adalah…
“Ho Gamyeong?”
Rakshasa Beracun, Ho Gamyeong.
Komandan Sapaeryeon mengamati medan perang dengan tatapan dingin menusuk. Suaranya yang tanpa emosi terdengar pelan.
“Kibarkan Bendera Merah.”
“Ya, Komandan!”
Begitu perintah diberikan, bendera merah langsung berkibar tinggi ke langit.
Seketika, pasukan merah dan hitam Sapaeryeon yang bercampur dengan musuh bergerak serempak sempurna. Mereka melilit dan membelit musuh seperti ular raksasa yang mengunci mangsanya.
Ho Gamyeong menatap ke bawah medan perang. Apa yang dilihatnya bukanlah medan perang yang kacau penuh sesak oleh orang-orang, melainkan sebuah papan catur raksasa. Matanya yang dingin dan penuh perhitungan seperti pemain judi berpengalaman menilai situasi tersebut.
“Angkat Bendera Hijau. Kepung musuhnya. Pertahankan Bendera Merah dalam posisi miring! Pegang mereka dari pergelangan kaki dan seret ke bawah.”
“Ya, Komandan!”
Di belakang Ho Gamyeong, bendera-bendera itu berkibar keras diterpa angin.
Setelah melewati begitu banyak ujian, inilah kesempatan yang berhasil mereka rebut. Sepanjang waktu itu, mereka telah mengasah tekad mereka sampai tajam seperti silet. Ho Gamyeong mengerahkan seluruh kemampuan dan semangatnya pada momen ini.
“Tidak ada satu pun… yang akan lolos.”
Terakhir dibaca: Bab 1589 · posisi baca tersimpan otomatis
Komentar Bab