Bab 1564
화산귀환
Penerjemah: Chen
Sekarang berbeda dengan dulu. (4)
“AAAAH!”
Benturan dua kekuatan menghasilkan gelombang kejut yang menyapu para anak buah Raja Naga Hitam. Para pejuang tangguh itu terlempar seperti daun-daunan dalam badai.
“Ugh!”
Para pendekar pedang klan Namgung, yang sebelumnya menyerang dengan momentum tinggi, terhenti dan mundur.
Mereka semua memfokuskan pandangan ke satu titik. Di tengah percikan energi hitam dan putih yang beterbangan, mereka melihat Namgung Dowi terlempar ke belakang.
“Tuan Muda!”
Namgung Dowi, yang terpelanting seperti panah dari busur, memutar tubuhnya sekali di udara sebelum mendarat kembali di tanah. Wajahnya tetap tenang dan kompos, seolah tidak terguncang sama sekali.
Justru para pendekar pedang Namgung lah yang menjadi gelisah.
“T-tuan Muda…”
Mereka tahu betapa kuatnya Namgung Dowi sekarang. Namgung Dowi saat ini tidak bisa disamakan dengan yang dulu di Maehwado.
Seandainya mereka tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka tidak akan pernah percaya bahwa hanya beberapa pengalaman dan perubahan pola pikir saja bisa meningkatkan kemampuan seni bela diri seseorang sampai sejauh ini.
Tapi Namgung Dowi yang sekuat itu pun terlempar hanya dengan satu serangan. Sementara itu, Raja Naga Hitam hanya mundur beberapa langkah.
“Dia… meski sudah kehilangan satu lengan…”
Seseorang bergumam, tapi pada saat itu, suara dingin Namgung Myeong terdengar di telinga para pendekar pedang.
“Jangan mengatakan hal-hal bodoh seperti itu.”
“T-tapi…”
“Hanya karena lengan terputus, bukan berarti kekuatan batin seseorang hilang. Mengganti lengan yang memegang senjata tidak mengurangi kekuatan seseorang. Bagi seorang seniman bela diri setingkat Raja Naga Hitam, hal ini sudah bisa diperkirakan.”
Dia adalah musuh paling dibenci mereka. Tetapi justru karena itu, dia bisa diakui.
Jika Raja Naga Hitam tidak berarti apa-apa, jika Surochae hanyalah sekelompok kriminal biasa, maka kematian Namgung Hwang akan menjadi kematian sia-sia seperti anjing, dan penderitaan Klan Namgung tidak akan lebih dari konsekuensi kebodohan mereka sendiri.
“Bahkan tanpa lengan kanannya, Raja Naga Hitam tetaplah Raja Naga Hitam. Dia adalah lawan yang tangguh bagi Tuan Muda.”
Bahkan menyebutnya lawan tangguh pun masih meremehkan, mengingat harga diri Namgung Dowi.
Terus terang… Namgung Dowi tidak bisa menandingi Raja Naga Hitam. Setidaknya belum saat ini.
“Ma-maka…”
“Kenapa? Apakah kamu sekarang menghargai nyawamu?”
Mendengar kata-kata Namgung Myeong, tekad yang kuat menyala di mata para pendekar pedang tersebut.
“Tentu saja tidak!”
“Maka angkat pedangmu! Jangan serahkan semuanya kepada kepala keluarga. Kamilah, Klan Namgung, yang akan memenggal kepala Raja Naga Hitam! Simbol Namgung bukanlah Tuanku tetapi Pasukan Pedang Langit Biru!”
“Ya!”
Para pendekar pedang Namgung, yang telah mendapatkan kembali tekad mereka, mengertakkan gigi dan kembali menyerang Raja Naga Hitam. Para bajak laut, yang cepat membaca situasi, segera bergerak untuk menghalangi jalur mereka.
“Berani sekali kalian!”
“Kalian semua sudah mayat dalam peti mati!”
Semangat prajurit Raja Naga Hitam tak kalah ganasnya dibandingkan dengan klan Namgung. Kehadiran mengancam dari Raja Naga Hitam, yang barusan saja menghempaskan Namgung Dowi hanya dengan satu pukulan, tanpa diragukan lagi membangkitkan semangat mereka.
Raja Naga Hitam masih perkasa.
Apa yang bisa lebih meyakinkan daripada melihatnya langsung dengan mata sendiri?
“Terobos!”
“Blokir mereka!”
Neraka di bumi yang sebelumnya terjadi di pulau kecil di sungai Yangtze kini sedang terulang di sini dalam bentuk yang berbeda.
Dan di tengah pertempuran sengit ini, dua sosok saling menatap dingin satu sama lain.
“Hmph.”
Raja Naga Hitam menatap jejak kaki di depannya.
Jejak kaki yang jelas tercetak. Bekas langkah mundurnya karena tak mampu menahan kekuatan serangan tadi. Tanda kehinaannya.
“…Hanya anak kecil belaka.”
Mata Raja Naga Hitam menyala seperti api hitam saat dia menatap tajam ke arah Namgung Dowi.
Hanya dua langkah mundur. Harga kecil untuk membuat lawan terpental.
Tapi jika lawannya adalah anak muda yang usianya belum genap separuh umurnya, penilaian tentu berubah.
Kalau saja lawannya Namgung Hwang, mungkin akan berbeda ceritanya. Tapi putranya bahkan tidak layak untuk dijadikan pembanding. Namun, dia justru sempat terdorong mundur oleh pedang si anak kecil yang lahir di bawah bayang-bayang sang ayah.
Mengertakkan gigi, Raja Naga Hitam menggeram keras.
“Ayah dan anak sama-sama berani menantangku, mencari kematian di tanganku. Sungguh menggelikan. Aku penasaran, apa yang akan dikatakan ayahmu jika melihat ini dari dunia bawah.”
Namgung Dowi menatap dingin Raja Naga Hitam dan membalas dengan tajam.
“Raja Naga Hitam yang perkasa, tidakkah kau merasa malu mengucapkan kata-kata seperti itu?”
“…Apa?”
“Orang yang mendengarmu mungkin mengira kau mengalahkan ayahku secara terhormat. Tapi kau tahu kebenarannya, bukan?”
Wajah bangga Namgung Dowi berubah ganas, memperlihatkan gigi berlumuran darah di balik bibirnya.
“Ayahku adalah Pedang Kaisar, Namgung Hwang.”
“…”
“Jika kau benar-benar menghadapinya dalam duel hidup dan mati yang adil, tak mungkin nyawamu masih utuh sampai sekarang.”
“Kau!”
“Pedang Kaisar terlalu mulia untuk disia-siakan pada bajak laut biasa. Orang sepertiku sudah lebih dari cukup untukmu.”
Wajah gelap Raja Naga Hitam berubah merah.
Bukan perbandingan dengan Namgung Hwang yang membuatnya marah. Tapi kesombongan bocah hina ini yang berani bicara seenaknya di hadapannya.
Dan mungkin juga karena…
Sebuah kenangan melintas di benak Raja Naga Hitam.
Seorang anak kecil, ukurannya baru setengah darinya. Saat pedang sialan itu menembus lengannya.
Saat kenangan itu teringat kembali dengan jelas, mata Raja Naga Hitam membara amarah.
“Aku akan merobek-robek tubuhmu dan memberimu pada ikan-ikan di Sungai Yangtze! Berbeda dengan ayahmu, bahkan mayatmu pun tak akan tersisa di dunia ini!”
Bibir Namgung Dowi membentuk senyuman.
Dia merasa terpaksa mengatakan hal itu.
“Aku akan membalas kata-katamu dengan sama. Ingatlah baik-baik.”
Siapa pun yang mengenalnya pasti akan merespons sama seperti dia.
“Ooooh!”
Raja Naga Hitam, seolah kata-kata sudah tidak diperlukan lagi, mengayunkan pedang guandao besarnya.
Kwahhhh!
Aura hitam yang ganas, seakan digambar dalam satu sapuan kuas yang penuh tinta, meluncur lurus menuju Namgung Dowi. Aura itu mewujudkan esensi dari “jalur keunggulan” [패도(覇道)].
Namgung Dowi tanpa sadar menggigit bibirnya.
‘Apakah ini dia?’
Jantungnya berdebar keras, dan keringat mengalir deras dari tubuhnya bagaikan hujan. Tekanan dari aura yang mendekat sangat besar, tetapi ketakutan yang menekan seluruh jiwanya bahkan lebih parah lagi.
Pada saat itu, Namgung Dowi menyadari sesuatu. Dia belum pernah sekali pun bertarung mati-matian melawan seseorang yang lebih kuat darinya.
Tidak, mungkin dia bahkan belum pernah bertarung hidup-mati dengan lawan yang setara sama sekali.
‘Apakah dulu seperti ini juga?’
Seseorang terlintas di benaknya.
Seseorang yang melakukan hal-hal yang dianggap semua orang sembrono tanpa berpikir panjang.
Bayangan orang lain juga muncul dalam pikirannya.
Seseorang yang selalu melindungi mereka dengan punggungnya yang luas.
‘Itu pasti tidak mudah bagi mereka!’
Boom!
Namgung Dowi mengambil langkah maju yang kuat.
Pasti mereka juga merasa takut.
Apa yang harus mereka atasi bukan hanya orang sepertihalnya Raja Naga Hitam. Mereka memikul beban yang lebih berat dan melawan musuh yang jauh lebih besar.
Karena itu.
“Oooooh!”
Pedang Namgung Dowi diselimuti oleh aura pedang berwarna putih.
Aura putih samar itu meledak ke atas, meluncur langsung menuju aura bilah hitam.
Kwahhhh!
Aura pedang besar dan aura bilah hitam bertabrakan sekali lagi.
Gush!
Darah mengalir deras dari mulut Namgung Dowi. Rasanya seperti seluruh tubuhnya dipukul dengan palu raksasa. Meskipun dia memiliki kekuatan dalam yang cukup besar, luar biasa di antara para seniman bela diri muda, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan Raja Naga Hitam yang berdiri di puncak seni bela diri.
Namun, alih-alih mundur, Namgung Dowi mendorong tanah dengan segenap kekuatannya.
Pecahan energi pedang dan bilah yang bertabrakan tertanam di tubuhnya. Tapi Namgung Dowi hanya fokus pada pria di depannya, tidak mengedipkan mata pun sekali.
– Bagaimana cara melawan orang yang lebih kuat?
Dia pernah bertanya hal ini.
– Kabur saja, dasar bodoh. Kenapa harus melawan orang yang lebih kuat? Kalau mau mati, cukup masukkan hidungmu ke dalam mangkuk air terus tenggelam. Kenapa repot-repot mati dengan cara yang sulit dan menyusahkan? Mau kubawakan mangkuk?
Jawabannya acuh tak acuh, begitu juga dengan mata yang menyertainya. Tapi Namgung Dowi tahu. Dia tahu bahwa di balik kata-kata tajam itu tersimpan kekhawatiran yang tersembunyi.
– Tapi kalau benar-benar harus berkelahi… Kalau tidak ada jalan untuk melarikan diri dan kamu harus menggigit hidung lawanmu, hanya ada satu cara untuk melakukannya.
Sekali lagi, aura pedang hitam meluncur menuju Namgung Dowi. Dia mengangkat pedangnya dan menebas dengan seluruh kekuatan yang dia miliki, menerjang maju dengan tekad yang tak kenal menyerah.
Mengalihkan energi lawan dengan kelenturan.
Kwahhhh!
Tubuh Namgung Dowi terlempar seperti peluru meriam, menghantam permukaan tanah.
‘Aku tidak mengenal teknik semacam itu!’
Jika itu Chung Myung, dia pasti sudah dengan mulus mengalihkan energi pedang itu tanpa sedikitpun terluka. Jika itu Namgung Hwang, dia pasti akan menghancurkannya hanya dengan kekuatan kasar. Namun sayang, Namgung Dowi tidak memiliki kemampuan seperti itu.
Whoosh!
Seolah-olah sudah direncanakan sebelumnya, tubuh Namgung Dowi yang jatuh bebas tiba-tiba melesat ke depan.
Di saat itu juga, pandangannya dipenuhi oleh bilah aura hitam yang luar biasa besar.
Pemandangan yang mengesankan sekaligus memicu rasa putus asa.
Meski harus berhadapan dengan perbedaan kekuatan yang sangat mencolok, Namgung Dowi tetap memilih untuk maju. Sayangnya, serangan maju ini benar-benar menyedihkan.
Namgung Dowi dengan segenap tenaga melecutkan dirinya ke bawah tanah, bukannya ke arah langit.
Boom!
Tubuhnya menembus tanah keras, hingga separuh tubuhnya tertanam di dalamnya. Ini adalah jurus putus asa untuk menciptakan celah sempit.
Saat ia menahan rasa sakit, aura ganas itu nyaris mengenai kepalanya.
Whoosh!
Namgung Dowi langsung menggelinding dan mendorong dirinya maju lagi menggunakan dorongan balik.
Anak yang lahir dalam bayangan orang tua yang perkasa bak harimau?
Mungkin saja.
Dibandingkan dengan Namgung Hwang, dia bahkan belum layak disebut anjing. Dibandingkan dengan Chung Myung, dia bahkan tidak lebih dari seekor cacing, apalagi ular.
Tapi Namgung Dowi tidak putus asa. Dia tidak mempunyai ilusi untuk menunggu menjadi harimau sendiri.
Dia sekarang sudah tahu. Dia telah memahami.
Ada metode-metode yang hanya bisa digunakan oleh seekor anjing.
“Dasar penjahat!”
Saat Raja Naga Hitam mengaum, pedang Namgung Dowi menebas udara.
Itu bukan gaya Pedang Kaisar, tapi Dua Belas Serangan Pedang Besi.
Ini bukan teknik yang mengandalkan kekuatan dalam yang luar biasa. Ini hanyalah teknik tebasan cepat dan ganas dari klan Namgung.
Wusss!
Belasan aura pedang melesat menuju Raja Naga Hitam dengan kecepatan luar biasa. Raja Naga Hitam, yang sedang mengumpulkan kekuatannya untuk melepaskan serangan energi pedang lagi, meringis.
“Sia-sia belaka!”
Deng!
Saat dia mengayunkan guandaonya, aura pedang yang mendekat hancur seperti istana pasir yang tersapu ombak dahsyat.
“Ooooooh!”
Tapi Namgung Dowi tidak lelah. Dia terus melepaskan aura pedang putih terang. Kelihatannya hampir konyol, didorong oleh keputusasaan murni yang membuat orang tanpa sadar mengepalkan tinjunya.
“Dasar bajingan pengecut!”
Mata Raja Naga Hitam berkilat-kilat dengan kegilaan.
Lengan kirinya yang menggenggam senjatanya membengkak seolah-olah akan meledak. Kekuatan yang terkumpul meledak saat dia mengayunkan pedangnya. Itu adalah serangan yang benar-benar mengerikan.
Kwahhhh!
Seolah-olah tinta hitam telah tumpah ke atas kanvas dunia.
Aura hitam pekat melahap energi pedang Namgung Dowi dan kemudian menelannya juga.
Pemandangan yang bisa membuat pikiran seseorang berputar-putar.
Namun Namgung Dowi tidak mundur. Sebaliknya, dia mendorong tubuhnya dari tanah.
Hoooom!
Pedang Namgung Dowi memancarkan cahaya putih yang menyilaukan.
Itu adalah pedangnya.
Pedang langit biru, berdiri megah di dunia ini.
Namgung Dowi, satu dengan pedangnya, menerjang ke dalam lautan aura hitam. Seolah menyelam ke samudra luas pada malam yang gelap gulita, itu adalah langkah yang benar-benar nekad.
Crunch!
Ujung pedang menembus aura.
Splatter!
Bahu Namgung Dowi tidak mampu menahan tekanan dan meledak terbuka.
Pop!
Dia mendengar serangkaian suara letupan dekat matanya, dan tak lama kemudian dia kehilangan pendengaran di salah satu telinga.
Crack.
Suara sesuatu yang patah di dalam tubuhnya bergema di kepalanya. Itu adalah tekanan dan rasa sakit, seolah ada gunung yang menghancurkannya.
Namun demikian, Namgung Dowi terus maju.
Menggigit bibir yang sudah mati rasa akibat tekanan yang membuat tubuhnya meledak-ledak di sana-sini, dia mengambil satu langkah demi satu langkah.
Akhirnya, ketika pedang putih itu menembus lautan hitam, apa yang menyambutnya adalah mata padi yang bersinar dengan cahaya kebiruan.
“Ini adalah akhirnya!”
Boom!
Dengan raungan memekakkan telinga yang seolah merobek udara, mata padi guandao yang membawa kekuatan luar biasa itu jatuh menghantam kepala Namgung Dowi dengan kekuatan yang mengerikan.
Melihat ini, mata Namgung Dowi sesaat kehilangan fokus.
‘Apa yang dia katakan waktu itu?’
…Rasanya dia pernah mendengar sesuatu.
Waktu itu…
– Serang kelemahan musuh dengan seluruh kekuatanmu. Ingat, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tanpa kelemahan. Kekuatan mereka hanya menyembunyikannya…
Flash!
Pedang Namgung Dowi yang sempat berhenti sejenak melesat seperti kilat.
Dia tidak mengarahkan serangan ke jantung atau leher musuh.
Sebaliknya, dia menargetkan tangan yang memegang guandao yang sedang turun. Jari-jarinya!
“Ugh!”
Guandao itu tiba-tiba menyimpang dari jalurnya. Jika terus mengikuti lintasan semula, senjata itu akan membelah Namgung Dowi menjadi dua.
Tapi Raja Naga Hitam sudah kehilangan satu lengan. Dia tidak bisa kehilangan tangan satunya lagi.
Crash!
Mata pisaunya yang dialihkan menghancurkan tanah keras seolah-olah itu tahu putih lembut.
Debu dan puing-puing beterbangan saat dampak dahsyat menyapu sekitarnya.
‘Di mana…!’
Karena itu, Raja Naga Hitam yang kehilangan jejak keberadaan Namgung Dowi buru-buru berdiri untuk bersiap menghadapi serangan. Namun, sebelum dia sempat bertindak…
“…Jeok Segwang.”
Di sebelah kanannya, tempat biasanya lengan kanannya memegang guandao kini kosong. Namun dari ruang kosong itu, sebuah suara dingin bergema.
“Dapat kau.”
Namgung Dowi, wajah tampannya berlumuran darah, tersenyum seperti iblis.
Hawa dingin merayap di tulang belakang Raja Naga Hitam.
Terakhir dibaca: Bab 1564 · posisi baca tersimpan otomatis
Komentar Bab