Bab 1552
화산귀환
Penerjemah: Chen
Pihak mana yang dimaksud? (2)
“Menyingkir!”
Duar!
Sebilah pedang raksasa membelah musuh menjadi dua, membuat potongan tubuhnya terpental ke kiri dan kanan. Sang penyerang bahkan tidak menghindari cipratan darah, justru semakin mempercepat langkahnya saat menerjang maju.
“Eek!”
Keganasannya luar biasa. Salah satu anggota Sapa terpaku di tempat, lumpuh karena ketakutan.
Tanpa ragu sedikit pun, Namgung Dowi mengayunkan pedangnya untuk mencincang orang di depannya menjadi beberapa bagian.
Duar!
Namun, orang yang seharusnya terpotong oleh pedang Namgung Dowi justru dipukul oleh tinju kuat dari arah tak terduga, membuatnya terpelanting. Pedang Namgung Dowi hanya menebas udara kosong.
Mata Namgung Dowi berkedut kesal. Sebuah lantunan samar terdengar di telinganya.
“Amitabha.”
Hye Yeon sedang menatap Namgung Dowi dengan tatapan tenang.
“Saya memahami ketergesaanmu, tetapi membunuh secara berlebihan hanya akan merugikan si pemegang pedang.”
“…Ya, Biksu.”
Meskipun ia menjawab dengan patuh, wajah Namgung Dowi terlihat sangat menyeramkan. Hye Yeon sekali lagi menyampaikan ketidaksenangannya dengan lembut.
“Amitabha”
Dia paham. Kalau dia mendengar Gunung Song terbakar, pasti dia juga akan panik dan tidak bisa fokus pada hal lain. Apalagi Namgung Dowi yang memimpin klan Namgung?
“Tuan Muda! Ada asap di sana…!”
Mendengar teriakan seseorang, Namgung Dowi sempat ragu sejenak.
Arah asap tersebut jauh menyimpang dari jalur yang harus mereka lalui. Jika mereka pergi ke sana dan terlibat pertempuran, hal itu pasti akan menunda rencana mereka.
“Apa yang harus aku lakukan?”
Pada saat itu, Namgung Dowi diliputi rasa benci diri sendiri yang tak terlukiskan.
‘Apa yang sedang kupikirkan sekarang?’
Ini tentang menyelamatkan orang. Alasan apa yang membuatnya ragu?
Orang-orang di Anhui bukan satu-satunya yang penting. Orang-orang di sana juga manusia.
“Ayo kita pergi!”
“Ya!”
Tapi sebelum mereka sempat mengambil langkah, Hye Yeon angkat bicara.
“Tidak, Siju. Aku akan pergi ke arah sana, jadi kau sebaiknya segera mengejar jalurmu.”
“Biarawati?”
Ketika Namgung Dowi menoleh, Hye Yeon mengangguk dengan wajah tegas.
“Bukankah waktu sangat penting?”
Untuk sesaat, wajah Namgung Dowi memerah tipis.
“Aku tidak semaju itu sampai tidak bisa membedakan mana yang lebih mendesak.”
“Tidak ada urutan dalam menyelamatkan nyawa. Tidak ada tugas yang lebih mendesak atau lebih penting. Aku hanya berpikir bahwa jika salah satu dari kita harus pergi dulu, sebaiknya itu kau, Tuan Muda Namgung.”
“…Biarawati.”
“Apakah kau meragukan kami?”
Hye Yeon tersenyum lembut. Namgung Dowi melihat sekeliling seperti tidak bisa mempercayainya. Para pendekar pedang Hwasan menunjukkan otot lengan mereka dengan bangga.
Mereka ingin berkata, “Percayalah pada kami.”
“Ayo pergi.”
Namgung Dowi mengangguk.
“Kalau begitu… aku serahkan padamu.”
“Amitabha.”
“Mari kita bergerak!”
Namgung Dowi memimpin bawahannya maju ke depan. Melihat punggungnya yang menjauh, mata Hye Yeon menunjukkan kekhawatiran mendalam.
‘Semoga mereka tidak terlalu terburu-buru.’
“Ayo pergi, semuanya. Kita harus cepat.”
“Ya, Biarawati!”
Hye Yeon berlari menuju asap yang membumbung tinggi.
‘Tapi memang tidak mungkin menghindari rasa tergesa-gesa.’
Bagaimana mungkin mereka tidak demikian setelah menyaksikan tragedi seperti itu? Semakin lama mereka menunda, semakin banyak korban yang akan terjadi.
“Semoga Buddha melindungi kita.”
“Amitabha.”
Dia melantunkan nama Buddha dengan penuh keyakinan.
“Sahyeong.”
Mendengar panggilan dari belakang, Baek Cheon menoleh. Wajahnya jelas menunjukkan ketidaksenangannya.
“Mengapa kamu terus memandangku seperti itu? Sudah kubilang, aku bukan orang seperti itu.”
“Tsk.”
Baek Cheon mendecakkan lidahnya tanpa berusaha menyembunyikannya, tapi Baek Sang tetap tak terpengaruh.
“Untuk menjadi pemimpin tim, kamu harus memiliki kekuatan bela diri yang memadai. Siapa yang mau mengikuti pemimpin yang tidak berguna saat krisis?”
“Kamu sendiri juga tidak lemah.”
“Apa yang kamu bicarakan? Bahkan murid-murid junior dan bocah-bocah nakal itu sudah lama meninggalku.” *
Baek Sang berkata dengan acuh tak acuh. Meskipun ucapan seperti itu biasanya membuat orang marah, dia tampak tidak terganggu.
“Apakah pantas seseorang dengan statusmu hanya menjadi anggota tim?”
“Setiap orang memiliki tempat yang cocok untuk mereka. Lagipula, kamu tidak mengerti. Menjadi anggota tim di bawah Wakil Pemimpin Sekte memiliki pengaruh lebih besar daripada sebagian besar pemimpin tim.”
“Haa.”
Pada akhirnya, Baek Cheon menghela napas seolah menyerah. Meski begitu, dia terus bergerak cepat, menginjak tanah dengan kakinya.
“Lalu, kenapa? Pasti ada alasan kamu memanggilku.”
“…Apakah menurutmu orang-orang yang kita tinggalkan baik-baik saja?”
Baek Cheon menoleh dalam diam.
Sementara mereka menebas habis bajingan Sekte Jahat itu saat bergerak maju, mereka tidak sempat memikirkan orang-orang yang telah ditindas oleh mereka. Fakta ini tampak memberatkan pikiran Baek Sang.
“Aku tidak bilang keputusanmu salah. Hanya saja…”
“Kau khawatir dengan mereka.”
“…Ya.”
Baek Cheon mengangguk.
“Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi saat ini, kita tidak punya kemewahan untuk memikirkan mereka. Ada orang-orang yang terpapar bahaya yang lebih besar saat ini juga. Untuk sekarang, menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa adalah prioritas kita.”
“Aku mengerti, Sahyeong.”
“Kalau kau benar-benar khawatir, maka berlari lebih cepatlah. Begitu kita memusnahkan semua bajingan Sekte Jahat yang menyusup ke Gangbuk, kita akan punya waktu lebih. Sampai saat itu, kita hanya bisa berharap semua orang bertahan.”
“…Ya.”
“Dan fokus!”
“Apa?”
Wajah Baek Cheon menjadi dingin saat dia melihat ke depan.
Beberapa saat kemudian, mereka melihat sekelompok seniman bela diri.
Para Sapa memegang pedang melengkung khas mereka, ternodai darah kering.
Api menyala di mata Baek Cheon.
“Hancurkan mereka!”
“Ya!”
Tepat saat Baek Sang hendak menerjang maju atas perintah tersebut, suara tajam seperti sesuatu yang membelah udara terdengar dari suatu tempat. Tiba-tiba, seseorang berjubah bela diri putih dengan pola biru melompat ke tengah-tengah para Sapa.
“Apa, apa ini?”
“Siapa pria ini?”
Dan kemudian.
Whiiiiiing!
Energi pedang, bagaikan badai salju yang mengamuk, meledak seketika. Serangan mendadak itu membuat para musuh yang sedang mengangkat pedang mereka tak sempat berteriak sebelum tersapu habis.
Wuuuuusss!
Ketika badai salju ganas itu mereda, yang tersisa hanyalah puluhan mayat anggota Sekte Jahat Sapas dan satu orang pria yang berdiri sendirian di tengah-tengah mereka.
Saat mata Baek Cheon bertemu dengan pria itu, yang memasang senyuman sinis yang aneh, dia mengertakkan gigi.
“Apa yang kau lakukan!”
Pria itu menjawab dengan santai sambil tersenyum.
“Pertanyaan yang bodoh. Apakah perlu alasan untuk menebas Sekte Jahat?”
“Bukan itu! Kenapa kau ada di sini!”
“Itu pertanyaan konyol lainnya. Kau pikir ada banyak jalan menuju kota-kota lain? Wajar saja kalau jalur kita bertemu. Kau memang lambat.”
“Ugh…”
Baek Cheon mengatupkan giginya kuat-kuat.
Para pendekar pedang dari Jongnam, yang dengan cepat berkumpul di sekitar Jin Geumryong, berdiri seolah melindunginya.
Melihat pemandangan ini, dada Baek Cheon dipenuhi amarah. Jin Geumryong menatap Baek Cheon dan menyeringai.
“Tidak perlu bersusah payah begitu.”
“Apa?”
“Aku yang akan menangani pekerjaan kotor ini. Bukankah itu tugas kakak tertua?”
“Siapa katamu…!”
“Tidak.”
Jin Geumryong memperbaiki ucapannya dengan senyuman lembut.
“Haruskah aku bilang, ini adalah tanggung jawab sekte yang lebih kuat?”
“…”
“Jadi, ikut saja sambil santai. Kau tidak akan banyak bekerja nanti.”
Tanpa menunggu jawaban Baek Cheon, Jin Geumryong memberi perintah kepada para pendekar pedang Jongnam.
“Ayo berangkat. Kita harus sedikit terburu-buru.”
“Iya!”
Para pendekar pedang Jongnam melemparkan tatapan dingin ke arah Baek Cheon dan para pendekar pedang Hwasan sebelum bergerak maju dengan cepat.
“Hoo.”
Baek Sang, yang selama ini hanya bisa menonton dengan bengong, menghela napas panjang seolah menyesali sesuatu.
“…Dulu mereka terasa mengerikan saat menjadi musuh, tapi sekarang sebagai sekutu justru terasa menenangkan…”
Namun, dia segera membatalkan ucapannya.
Wajah Baek Cheon tampak sangat rumit, sulit dijelaskan ekspresinya.
“Baek Sang.”
“Iya? Ah… Ya, Sahyeong! Silakan beri perintah!”
“Lari.”
“Apa?”
“…Kalau kamu tertinggal dari Jongnam, aku akan pastikan kamu menyesal kenapa tidak mengikuti Chung Myung saja.”
Karena sudah lama mengenal Baek Cheon, Baek Sang tahu betul ini bukan ancaman kosong. Sama sekali bukan.
“Tapi, Sahyeong! Seperti yang Anda tahu, kita masih menunggu Sekte Pengemis untuk bergabung dengan kita…”
“Lalu?”
“…”
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
“…Apa?”
Baek Cheon menatapnya dengan mata tanpa emosi.
“Lari.”
“Ya! Ya, Sahyeong!”
Ketakutan, Baek Sang dan murid-murid Hwasan langsung berlari secepat mungkin. Tak ada kata-kata yang bisa menyentuh hati pria itu saat ini.
“Sialan! Sudahlah. Mereka pasti bisa menemukan kita entah bagaimana caranya!”
Diam-diam dia memberikan penghormatan pada anggota-anggota Sekte Pengemis yang belum dikenal, yang mungkin saat ini sedang mati-matian mengejar mereka.
Sambil mengertapkan gigi, Baek Cheon pun segera mengikuti mereka. Perutnya mendidih marah.
“Sialan Jin Geumryong…”
Dia bisa menerima dengan tenang jika dikatakan bahwa dia kalah dibanding Jin Geumryong. Dia sudah cukup dewasa untuk tidak marah karena hal-hal sepele seperti itu.
Tapi dia tidak akan sanggup mendengar kalau Hwasan dianggap lebih rendah dari Jongnam. Bahkan saat berada di alam baka pun, dia tak ingin mendengar perkataan semacam itu.
“Segera setelah anggota Sekte Pengemis tiba, beritahu para ketua tim untuk mempercepat langkah! Siapa pun yang tertinggal akan mendapat konsekuensi!”
“Ya, Sahyeong!”
“Lari, jangan jawab sambil berdiri!”
“…”
Saat itu juga—
Tanpa perlu desakan dari Baek Cheon, pasukan penyerang dari Cheonumaeng menyebar ke seluruh wilayah Gangbuk dengan kecepatan jauh melampaui prediksi Im Sobyeong.
“A-Apa ini semua terjadi begitu cepat?”
Wajah Hong Daekwang langsung pucat pasi.
Garis-garis hitam tak terhitung jumlahnya muncul di peta besar wilayah Gangbuk. Garis tebal itu bercabang-cabang secara terputus-putus, menyebar seperti ranting-ranting di daratan luas utara.
Dan itu belum semuanya.
“Pertempuran dekat Jincheng!”
“Kelompok yang berangkat dari markas besar telah membantai para Sapa di sekitar Zhangzi!”
“Ada laporan pertempuran juga di dekat Hefei!”
“Sudah secepat ini?”
Laporan terus berdatangan dari segala penjuru. Para petugas yang menunggu dengan cekatan menandai lokasi pertempuran di peta.
Setiap kali kuas yang dicelupkan dalam cat merah menyapu peta, titik-titik merah muncul di atas garis-garis hitam tersebut.
“…Bagaimana mungkin mereka bisa bergerak secepat ini sambil terus bertempur?”
Meskipun para Sapa itu tidak lebih dari penjahat biasa, bukan seniman bela diri sejati, berperang dan beregrup seharusnya masih membutuhkan usaha minimal.
Saat Hong Daekwang menatap peta dengan kosong, garis-garis itu menyebar semakin luas, dan jumlah titik merah pun bertambah.
“…Kelihatannya seperti bunga plum.”
Seolah-olah ada pohon plum raksasa yang sedang mekar di seluruh daratan Gangbuk. Menyadari hal ini, Hong Daekwang segera berteriak.
“Ini bukan waktunya untuk itu! Bagaimana dengan anak buah kita?”
“Mereka semua sudah berangkat. Tapi yang lain bergerak terlalu cepat sehingga butuh waktu untuk menyusul mereka…”
“Kalian bodoh! Kita kan Sekte Pengemis, demi Tuhan! Mengatakan tidak bisa menyusul karena mereka terlalu cepat itu konyol! Apalagi berikutnya? Mau bilang kalau kalian lupa cara mengemis?”
Hong Daekwang berteriak marah, memarahi bawahannya.
“Katakan pada mereka bahwa siapa pun yang tidak bergabung sampai akhir hari ini akan kehilangan kakinya yang tak berguna! Sekarang pergi!”
“Ya, Pemimpin Sekte!”
Hong Daekwang menggigit bibir bawahnya erat-erat.
“…Apakah aku meremehkan Cheonumaeng sebegini jauhnya?”
Bahkan saat ini, cabang-cabang terus menyebar, dan titik-titik merah semakin rapat. Hong Daekwang menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan sedikit kelelahan.
Terakhir dibaca: Bab 1552 · posisi baca tersimpan otomatis
Komentar Bab